faktakalbar

Cegah Karhutla Meluas, BRIN Manfaatkan Satelit untuk Deteksi Titik Api

BRIN mengembangkan model prediksi karhutla hingga enam bulan dan memanfaatkan citra satelit untuk mendeteksi titik api. Model prediksi masih dalam tahap validasi.

Penulis: Clara Wednesday, 28 October 2026 📖 3 menit
Cegah Karhutla Meluas, BRIN Manfaatkan Satelit untuk Deteksi Titik Api
BRIN mengembangkan model prediksi karhutla hingga enam bulan dan memanfaatkan citra satelit untuk mendeteksi titik api. Model prediksi masih dalam tahap validasi. (dok.ist)

Faktakalbar.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan model prediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk memperkirakan potensi kebakaran hingga tiga sampai enam bulan ke depan. Upaya ini dilakukan guna memperkuat mitigasi dan membantu pemerintah mengantisipasi kebakaran sebelum api meluas.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan perkembangan riset tersebut setelah mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Arif menjelaskan, model prediksi karhutla yang dikembangkan BRIN saat ini masih dalam tahap validasi. Jika proses tersebut berjalan sesuai rencana, model itu diharapkan dapat membantu memperkirakan potensi kebakaran dalam jangka menengah sehingga langkah pencegahan bisa disiapkan lebih awal.

Arahan Presiden Prabowo menjadi salah satu pendorong penguatan penelitian tersebut. Pemerintah menginginkan pemanfaatan riset dan teknologi untuk mendukung penanganan karhutla secara lebih terencana, bukan hanya ketika kebakaran sudah terjadi.

Model Prediksi Karhutla Masih dalam Tahap Validasi

BRIN tengah mengembangkan kemampuan untuk memprediksi potensi karhutla dalam rentang tiga hingga enam bulan mendatang. Namun, model tersebut belum dapat dianggap sebagai sistem prediksi yang sepenuhnya siap digunakan karena masih membutuhkan proses validasi.

Validasi diperlukan untuk menilai ketepatan model dalam memperkirakan potensi kebakaran. Hasilnya diharapkan dapat menjadi salah satu dasar bagi pemerintah dan petugas di lapangan untuk menentukan wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih awal.

Selain memperkirakan potensi kebakaran, BRIN juga meneliti pola perambatan api. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana api dapat menyebar di suatu wilayah sehingga langkah antisipasi dan penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

BRIN berencana melibatkan sejumlah perguruan tinggi dalam pengembangan riset tersebut. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat kemampuan penelitian sekaligus menghasilkan pendekatan yang lebih baik untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan.

Citra Satelit Digunakan untuk Mendeteksi Titik Api

Selain mengembangkan model prediksi, BRIN melakukan deteksi harian terhadap titik api dengan memanfaatkan satelit dan citra satelit.

Informasi hasil deteksi tersebut dibagikan kepada sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan. Data ini dapat digunakan sebagai bahan pemantauan dan tindak lanjut dalam penanganan kebakaran.

Pemanfaatan citra satelit memungkinkan pemantauan wilayah yang luas, termasuk kawasan yang sulit dijangkau secara langsung. Meski demikian, informasi titik panas atau hotspot perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut karena tidak setiap anomali panas otomatis menunjukkan kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan.

Dengan dukungan data satelit, pemerintah diharapkan dapat memperoleh informasi lebih cepat mengenai lokasi yang perlu diperiksa dan ditangani.

BRIN Juga Mengkaji Pola Perambatan Api

Penelitian mengenai perambatan api menjadi bagian lain dari upaya memperkuat mitigasi karhutla. Informasi tentang pola penyebaran api dapat membantu memperkirakan arah dan potensi perluasan kebakaran berdasarkan kondisi di suatu wilayah.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat mendukung perencanaan penempatan personel, penentuan area prioritas, serta strategi penanganan kebakaran.

Namun, keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada kualitas data, ketepatan model, kondisi cuaca, karakteristik vegetasi, dan hasil pengujian di lapangan.

Karena itu, pengembangan model prediksi dan perambatan api perlu berjalan bersama sistem pemantauan, kesiapan petugas, serta koordinasi antarlembaga.

Penanganan Karhutla Dilakukan Bersama Sejumlah Lembaga

Untuk penanganan jangka pendek, BRIN juga berkolaborasi dengan BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI Angkatan Udara dalam operasi modifikasi cuaca (OMC).

Kepala BRIN menyebutkan, salah satu metode yang dilakukan adalah penaburan es kering atau dry ice sebelum operasi modifikasi cuaca menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl).

Menurut Arif, operasi tersebut telah diikuti turunnya hujan di sejumlah wilayah. Meski demikian, dampak setiap operasi perlu dinilai berdasarkan kondisi cuaca dan hasil pemantauan di wilayah sasaran.

Langkah tersebut merupakan bagian dari penanganan jangka pendek, sementara riset prediksi karhutla dan pola perambatan api diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan dalam jangka menengah dan panjang.

Teknologi Diharapkan Memperkuat Pencegahan Kebakaran

Pengembangan prediksi karhutla hingga enam bulan dan pemanfaatan citra satelit menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem peringatan dini di Indonesia.

Jika model prediksi telah tervalidasi dan dapat diterapkan secara efektif, informasi yang dihasilkan berpotensi membantu pemerintah memprioritaskan wilayah rawan serta menyiapkan langkah pencegahan sebelum kebakaran meluas.

Meski begitu, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan penanganan karhutla. Patroli, pengawasan aktivitas manusia, kesiapan personel, penanganan lahan gambut, serta koordinasi pemerintah dan masyarakat tetap diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran.

Dengan menggabungkan penelitian, pemantauan satelit, dan tindakan lapangan, upaya penanganan karhutla diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur dan antisipatif.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK