Menyala! Rupiah Sentuh Rp17.503 per Dolar AS

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah. (Ist)

“Jadi Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan, walaupun tidak di-expose secara internasional; ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika,” ungkap dia.

Eskalasi konflik bersenjata yang terus terjadi di wilayah Timur Tengah ini telah memicu pergerakan indeks dolar mengalami penguatan yang cukup signifikan di pasar uang global.

Penguatan indeks dolar Amerika Serikat tersebut pada akhirnya berdampak langsung terhadap lonjakan tajam harga minyak mentah dunia khususnya untuk jenis brent crude oil.

Jika dilihat dari segi faktor internal, pencapaian angka pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun 2026 yang menyentuh 5,61 persen tidak serta merta membuat rupiah langsung menguat.

Pembentukan struktur pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tersebut nyatanya lebih banyak didominasi oleh tingginya pergerakan konsumsi masyarakat luas dan realisasi belanja negara.

Tingginya angka pertumbuhan tersebut dinilai Ibrahim tidak memberikan dampak positif terhadap perputaran arus investasi asing yang persentasenya masih tercatat sangat kecil.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,” ujarnya.

Tekanan terhadap ekonomi domestik juga diperparah oleh badai pemutusan hubungan kerja yang telah menimpa 40 ribu buruh di sektor padat karya selama rentang periode Januari hingga April 2026.

Pemangkasan jumlah tenaga kerja tersebut secara dominan terjadi pada sektor industri manufaktur tekstil, pabrik garmen, serta berbagai perusahaan elektronik berskala besar.

Ibrahim memprediksi secara gamblang bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja massal ini masih akan terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Sentimen negatif lain turut disumbang oleh besarnya jumlah angkatan kerja masyarakat Indonesia yang harus terserap di sektor non-informal dengan total mencapai 87,74 juta orang.

Angka serapan tenaga kerja di sektor non-informal yang rentan tersebut tercatat jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan total keseluruhan pekerja di sektor formal.

Para pelaku pasar uang di tanah air saat ini juga tengah bersikap menahan diri sembari menunggu rilis data terbaru dari lembaga Morgan Stanley Capital International.

Rilis data keuangan global tersebut menimbulkan kekhawatiran besar di lantai bursa karena dinilai memiliki potensi untuk menurunkan peringkat kelayakan investasi saham Indonesia.

Berdasarkan akumulasi dari berbagai faktor eksternal dan internal tersebut, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus melanjutkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada pekan ini.

Meskipun demikian, analis pasar tetap optimis dan memproyeksikan bahwa pelemahan kurs rupiah tersebut masih terkendali serta tidak akan anjlok melebihi batas psikologis Rp17.550 per dolar AS.

(*Red)