Riset BRIN dan UGM Ungkap Khasiat Daun Kenanga sebagai Antidiabetes dan Antioksidan Alami

Riset kolaborasi BRIN dan UGM ungkap potensi besar khasiat daun kenanga sebagai obat antidiabetes dan antioksidan. Ekstrak etanol tunjukkan hasil signifikan.
Riset kolaborasi BRIN dan UGM ungkap potensi besar khasiat daun kenanga sebagai obat antidiabetes dan antioksidan. Ekstrak etanol tunjukkan hasil signifikan. (Dok. Ist)

Baca Juga: Hemat Biaya Dokter! Tanam 6 Herbal Ini di Halaman Rumah Anda Sekarang

Hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) yang dipublikasikan dalam Journal of Applied and Pharmaceutical Science mengungkap bahwa tanaman kenanga telah dimanfaatkan untuk pengobatan lebih dari 18 jenis penyakit. Praktik pemanfaatan ini dilakukan oleh 36 pengobat tradisional dari 28 etnis yang tersebar di 16 provinsi di Indonesia. Penyakit kulit tercatat sebagai keluhan yang paling dominan ditangani menggunakan tanaman ini.

Menariknya, bagian tanaman yang paling banyak dieksplorasi khasiatnya oleh para pengobat tradisional bukanlah bunga, melainkan bagian daun. Penggunaan daun dinilai memiliki keunggulan karena lebih mudah didapat, pengambilannya tidak merusak keberlangsungan hidup tanaman, serta tetap memberikan efek penyembuhan yang optimal. Berangkat dari fakta tersebut, Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBOOT) BRIN dan UGM melakukan kajian ilmiah mendalam.

Peneliti PR BBOOT BRIN, Nuning Rahmawati, mengungkapkan bahwa hasil pengujian laboratorium menunjukkan temuan yang sangat signifikan.

“Ekstrak etanol daun kenanga menunjukkan aktivitas sebagai antidiabetes dengan menghambat aktivitas dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4) sebesar 67,4%, dengan standar baku sitagliptin,” ungkapnya dikutip Minggu (26/4/2026).

Selain fungsi antidiabetes, publikasi di Journal of Animal and Plant Sciences juga menunjukkan bahwa kenanga memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Nuning memaparkan, hasil studi analisis kimia ekstrak etanol daun kenanga menunjukkan kandungan metabolit sekunder yang tinggi. Total Flavonoid Content (TFC) tercatat sebesar 33,06±1,61 µg QEq/mL dan Total Phenolic Content (TPC) sebesar 97,15±1,00 mg GAE/g. Semakin tinggi kadar TFC dan TPC, semakin kuat pula efektivitas antidiabetes dan antioksidan pada ekstrak daun tersebut.

“Dari sisi ilmiah, Kenanga diketahui mengandung berbagai senyawa aktif seperti ocimene, linalool, germacrene D, dan β-caryophyllene yang memiliki aktivitas farmakologi sebagai antimikroba, antioksidan, hingga penenang. Temuan ini memperkuat bukti empiris yang selama ini diyakini oleh masyarakat dalam penggunaan tanaman tersebut sebagai obat alami,” ia menjelaskan.

Nuning menegaskan bahwa khasiat daun kenanga ini membuka prospek cerah bagi industri kesehatan di masa mendatang.

“Kenanga memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis herbal modern, mengingat kandungan metabolit sekundernya yang memiliki aktivitas antibakteri, antidiabetes, antioksidan dan berbagai aktivitas farmakologi lainnya,” ia menjelaskan.

Di balik potensinya, Nuning memberikan peringatan terkait status keberlanjutan tanaman. Saat ini, lebih dari 60 persen pasokan kenanga untuk pengobatan tradisional di Indonesia masih bergantung pada pengambilan dari alam liar. Meski status konservasinya menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) masih berisiko rendah (least concern), langkah budidaya mutlak diperlukan agar tanaman ini tidak masuk ke kategori terancam punah (endangered).

“Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan terkait efektivitas dan keamanan Kenanga sebagai bahan obat modern,” ujarnya.

(*Red)