-
Doxing dan Cyberbullying: Jika akun anonim Anda digunakan untuk menyuarakan opini kontroversial, identitas yang terbongkar bisa memicu perundungan di dunia nyata.
-
Spear-Phishing: Peretas (hacker) dapat menggunakan profil yang dikumpulkan AI untuk menciptakan penipuan yang sangat personal. Mereka bisa menyamar sebagai teman dekat yang mengetahui rahasia spesifik Anda untuk menjebak Anda mengeklik tautan berbahaya.
Dr. Marc Juarez dari University of Edinburgh menegaskan bahwa temuan ini membuktikan perlunya meninjau kembali praktik privasi digital kita di era AI.
Risiko “Salah Tuduh” oleh AI
Meskipun canggih, AI bukanlah teknologi yang sempurna. Profesor Peter Bentley dari University College London (UCL) memperingatkan adanya fenomena AI halusinasi.
AI bisa saja salah mencocokkan akun dan menuduh seseorang sebagai pemilik second account yang problematik hanya karena adanya kemiripan hobi atau gaya bahasa.
“Orang-orang nantinya bisa dituduh melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan,” tegas Bentley.
Cara Melindungi Diri
Para ilmuwan mendesak platform media sosial untuk memperketat keamanan dari aktivitas scraping bot. Namun, langkah pencegahan paling ampuh tetap berada di tangan pengguna. Profesor Marti Hearst dari UC Berkeley menyarankan agar pengguna tidak membagikan informasi yang konsisten di antara akun utama dan akun anonim guna memutus pola yang bisa dibaca oleh AI.
(*Drw)
















