“Jangan sampai kita hanya menjadi penonton. Perguruan tinggi bersama pemerintah daerah saya yakin bisa menyiapkan anak-anak muda Kalimantan Barat agar nanti mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalbar, Sukino, menyatakan komitmen kampusnya untuk terus menjadi ruang pengembangan intelektualitas modern guna menjawab isu-isu strategis seperti transisi energi, tanpa harus kehilangan identitas lokal.
Terkait akselerasi energi terbarukan di Kalbar, Sukino menilai isu tersebut bukan hanya sekadar persoalan teknis dan ekonomi, melainkan menyangkut tanggung jawab moral manusia dalam menjaga kelestarian bumi.
“Dalam Islam kita diajarkan untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi. Karena itu, transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan bukan sekadar urusan teknis, tetapi ikhtiar kita untuk menjaga alam,” tuturnya.
Ia menyebut energi hijau sebagai “energi yang adil” karena mampu memberikan jaminan bahwa generasi mendatang masih dapat menikmati udara bersih dan kekayaan alam Kalbar.
Ia pun berharap seminar ini mampu melahirkan gagasan-gagasan kritis untuk memajukan pembangunan daerah yang berkelanjutan.
(FR)
















