“Partisipasi politik anak muda harus disertai pemahaman etika dan aturan main demokrasi. Tanpa itu, partisipasi justru berpotensi melemahkan demokrasi,” ujar Yosef di hadapan peserta pelatihan.
Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai calon pemimpin masa depan sekaligus bagian dari kontrol sosial.
Namun, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam arus disinformation atau disinformasi dan polarisasi yang marak di ruang publik digital.
Ruang digital, kata Yosef, harus dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan politik yang rasional, bukan sekadar ajang mobilisasi emosi.
Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Kepemimpinan Politik Muda yang Berintegritas, Partisipatif, dan Berorientasi Kepentingan Publik” ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh lain.
Tampak hadir anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Dian Eka Muchairi, serta perwakilan dari Kesbangpol Provinsi Kalimantan Barat.
Ketua Panitia, Ahmad Syaiyadi, menjelaskan bahwa forum ini bertujuan untuk meningkatkan political literacy atau literasi politik di kalangan mahasiswa. Tujuannya adalah mengikis sikap apatis dan melahirkan kader pemimpin yang bertanggung jawab.
Senada dengan hal itu, Koordinator Pusat BEM se-Kalimantan, Danil Huda, berharap kolaborasi ini dapat memperkuat posisi mahasiswa sebagai kekuatan moral yang menjaga demokrasi tetap berada di jalur kepentingan rakyat.
(Mira)
















