Faktakalbar.id, DHAKA – Angkatan Udara Bangladesh (BAF) telah menandatangani surat perjanjian kerja sama (Letter of Intent/LOI) dengan produsen dirgantara asal Italia, Leonardo.
Kesepakatan ini terkait rencana pengadaan pesawat tempur multiperan Eurofighter Typhoon di masa mendatang, Rabu (10/12/25).
Baca Juga: Diduga Jadi Sarang Militer, Jet Tempur Thailand Bombardir Kasino Royal Hill Kamboja
Penandatanganan LOI tersebut dilangsungkan di Markas Besar Angkatan Udara Bangladesh pada 9 Desember 2025.
Acara ini disaksikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Hasan Mahmood Khan, Duta Besar Italia untuk Bangladesh Antonio Alessandro, serta perwakilan pejabat tinggi militer dari kedua negara.
Langkah ini merupakan bagian dari implementasi program modernisasi militer bertajuk “Tujuan Angkatan Bersenjata 2030” (Forces Goal 2030).
Leonardo, yang memegang 21% saham dalam konsorsium Eurofighter, bertindak sebagai pemimpin dalam proyek pengadaan ini.
Baca Juga: Provokasi di Langit Okinawa: Radar China Kunci Jet Tempur Jepang, Asia Timur Memanas
Jika pesanan berlanjut, perakitan akhir pesawat Typhoon dipastikan akan dilakukan di fasilitas Leonardo di Turin, Italia.
Sebelumnya, perwakilan BAF telah melakukan kunjungan ke Turin pada awal 2025 untuk melakukan evaluasi dan uji terbang.
Mereka menggunakan pesawat produksi seri instrumen (ISPA 6) yang telah dilengkapi dengan radar active electronically scanned array (AESA) Captor-E serta paket peningkatan P3Eb (Phase 3 Enhancements Package b).
Gantikan Armada Lawas dan Pergeseran Geopolitik
Meskipun jumlah unit belum difinalisasi hingga kontrak produksi ditandatangani, indikasi awal menyebutkan Bangladesh berniat memesan antara 10 hingga 16 unit Typhoon.
Pesawat ini diproyeksikan untuk menggantikan armada tua BAF yang terdiri dari Chengdu J-7 dan MiG-29.
Keputusan ini sekaligus menandai kemenangan Typhoon atas pesaing utamanya, Rafale buatan Dassault Prancis. Selain itu, langkah ini mengindikasikan pergeseran strategi logistik BAF.
Meski sempat membeli jet latih Yak-130 dari Rusia pada 2010-an, sanksi internasional akibat perang di Ukraina serta masalah suku cadang diduga menjadi alasan kuat Bangladesh tidak menambah alutsista buatan Rusia.
Kendati demikian, Bangladesh tetap menjaga hubungan pertahanan dengan China.
Baca Juga: Eskalasi Asia Membara: Jet China Kunci Radar Tembak ke Pesawat Jepang, Tokyo ‘Murka’
BAF diperkirakan akan mengoperasikan Chengdu J-10C untuk bertugas bersama Typhoon, menciptakan kombinasi kekuatan udara yang unik.
Jika terealisasi, Bangladesh akan menjadi operator Typhoon ke-11 di dunia dan yang pertama di luar kawasan Eropa serta Timur Tengah.
Pesawat yang akan dikirim kemungkinan besar merupakan varian standar Tranche 4, mengingat varian Tranche 5 baru diperkirakan tersedia pada awal 2030-an.
Kontrak ini juga diprediksi mencakup paket persenjataan baru, lantaran stok rudal buatan Rusia dan China yang dimiliki Bangladesh saat ini tidak kompatibel dengan sistem Eurofighter.
(Ra)
















