3. “Pakai Gurita Biar Perut Nggak Buncit/Bodong”
Pemakaian gurita bayi (kain pengikat perut) dianggap wajib hukumnya oleh orang tua zaman dulu untuk membentuk perut bayi agar rata.
Faktanya
Perut bayi terlihat buncit itu wajar karena otot perut mereka belum berkembang sempurna dan organ di dalamnya masih menyesuaikan tempat.
Pemakaian gurita yang terlalu kencang justru berbahaya karena bisa menekan lambung (menyebabkan bayi sering gumoh/muntah) dan menghambat pernapasan bayi yang dominan menggunakan pernapasan perut.
Dunia medis modern sudah lama meninggalkan penggunaan gurita.
4. “Kalau Demam, Selimuti yang Tebal Biar Keringat Keluar”
Saat anak demam tinggi, refleks orang tua sering kali memakaikan jaket tebal dan selimut berlapis-lapis dengan harapan anak berkeringat dan panasnya turun.
Faktanya
Ini berbahaya.
Membungkus anak demam dengan pakaian tebal justru akan memerangkap panas tubuh, sehingga suhu badan bisa melonjak naik (overheating) dan berisiko kejang demam (step).
Penanganan yang tepat adalah memakaikan baju tipis yang menyerap keringat dan menjaga suhu ruangan tetap sejuk agar panas tubuh bisa keluar menguap.
5. “Cukur Rambut Bayi Sampai Botak Biar Tumbuh Lebat”
Banyak orang tua yang rutin menggunduli bayinya berkali-kali dengan harapan rambut yang tumbuh nantinya akan tebal dan hitam legam.
Faktanya
Tebal tipisnya rambut, serta lurus atau keritingnya rambut anak, 100% ditentukan oleh genetik (keturunan), bukan oleh pisau cukur.
Mencukur rambut hanya memotong bagian batang rambut yang mati, tidak memengaruhi akar rambut di bawah kulit.
Rambut bayi terlihat tebal setelah dicukur hanya ilusi optik karena ujung rambut tumbuh bersamaan secara merata dan kasar.
Menghormati nasihat orang tua itu baik, namun kesehatan dan keselamatan anak adalah prioritas utama. Di era informasi ini, jadilah orang tua yang kritis.
Selalu cek fakta medis ke dokter anak atau sumber terpercaya sebelum menerapkan nasihat “katanya-katanya”.
Baca Juga: Waspada! 6 Kesalahan Pola Asuh Ini Bikin Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Merasa Selalu Benar
(*Mira)
















