Nelayan dan pelaku wisata terpaksa menganggur, kehilangan pendapatan harian, dan harus berjibaku membersihkan sisa-sisa limbah alam yang dipicu ulah manusia tersebut.
Fakta Ilmiah: Sungai Tercemar Sedimentasi
Keresahan warga diperkuat oleh temuan ilmiah.
Ketua tim peneliti, Raghel Yunginger, dalam paparan kajiannya kepada Bapppeda Provinsi Gorontalo membeberkan fakta bahwa tambang batuan di sisi atas desa memberikan dampak lingkungan yang nyata.
Kajian tersebut mencatat sekitar 1,7 kilometer aliran sungai telah terdampak sedimentasi akibat aktivitas pembukaan lahan tambang.
Sebagian besar segmen sungai yang tertutup endapan berada hanya berjarak 100 meter dari titik bukaan lahan utama.
“Tebing dengan pelapukan batuan yang menghasilkan material lepas, tidak kompak (unconsolidated), dan ini dapat memicu gerakan tanah saat curah hujan dan mudah terbawa aliran air hujan,” jelas Raghel.
Meski pertambangan diklaim memberikan manfaat ekonomi sesaat, namun kerusakan ekologis yang ditimbulkan berpotensi mematikan sektor pariwisata berkelanjutan yang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat Botubarani dalam jangka panjang.
Baca Juga: Strategi Investasi Emas yang Tepat Saat Harga Melonjak: Jangan FOMO dan Terapkan Cost Averaging
(*Mira)
















