Persepsi ‘Acab’ di Pontianak: Sikap Sepelekan Banjir Picu Sikap Pasrah

"Pakar Geofisika Untan mengkritik keras persepsi 'acab' di Pontianak. Sikap menyepelekan banjir ini dinilai berbahaya dan memicu sikap pasrah dalam mitigasi bencana."
Pakar Geofisika Untan mengkritik keras persepsi 'acab' di Pontianak. Sikap menyepelekan banjir ini dinilai berbahaya dan memicu sikap pasrah dalam mitigasi bencana. (Dok. Mira/Faktakalbar.id)

Siti Hatijah (20), mahasiswi di kawasan rawan banjir Sepakat Dua, mengaku tertekan secara psikologis.

“Ada rencana mau pindah, nda sanggup juga kak kalau banjir, kalau misalnya malam jam 1, jam 2 ga bisa tidur, takutnya banjir, motor sempat ke berendam juga itu motornya, takut rusak,” keluh Siti, (17/10/2025).

Perjuangan serupa diungkapkan Ismail (77), pemilik kos di area yang sama, yang terpaksa melakukan mitigasi mandiri dengan biaya mahal.

 “Kosnya kami tinggikan memang, berapa kali dek, puluhan kali udah ninggikan,” ujarnya.

Sikap pasrah yang dikritik Joko juga tercermin dalam penegakan aturan tata ruang.

Joko memperingatkan, sikap menyepelekan “acab” ini akan menjadi bumerang fatal di masa depan. Dengan adanya perubahan iklim, ancaman banjir bukan lagi sekadar genangan sesaat.

“Risiko yang akan kita hadapi menyebabkan banjir yang akan terjadi di Pontianak menyebabkan banjir lebih tinggi dan lebih lama dari biasanya,” tegasnya.

“Kita harus sadari dan terima kita punya ancaman, jangan dicuekin,” imbuh Joko.

Baca Juga: Banjir Landa Simpang Hilir, Polisi Bantu Warga Dorong Motor yang Mogok di Tengah Hujan Deras

(*Mira)