Keberhasilan ini juga didukung oleh alokasi anggaran yang signifikan, di mana negara itu menginvestasikan lebih dari 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk sektor kesehatan.
Perwakilan WHO untuk Maladewa, Payden, menyebut pencapaian ini sebagai bukti nyata kekuatan sistem kesehatan yang tangguh.
“Keberhasilan eliminasi tiga penyakit ini menjadi contoh nyata bagaimana investasi berkelanjutan dalam sistem kesehatan, inovasi, dan layanan berbasis komunitas dapat mengubah arah kesehatan masyarakat,” ujar Payden.
Sebelumnya, pada tahun 2019, Maladewa telah berhasil meraih status eliminasi untuk penularan HIV dan sifilis dari ibu ke anak.
Kini, dengan tambahan hepatitis B, negara ini telah mencatatkan standar baru. Prestasi ini sangat kontras dengan kondisi di kawasan Asia Tenggara, di mana WHO mencatat pada tahun 2024 masih ada ribuan bayi yang lahir dengan sifilis.
Kisah sukses ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam upaya eliminasi penularan penyakit dari ibu ke anak di negara lain.
Baca Juga: Aston Pontianak Gelar Sosialisasi HIV/AIDS untuk Karyawan
(*Red)
















