*Uranium Ternyata Terkait dengan Tingginya Kandungan Bauksit di Kalbar
Diklaim Kalbar memiliki cadangan Nuklir berupa Uranium yang terbilang cukup besar, dalam waktu dekat Amerika Serikat akan menerjunkan tim riset dengan pembiayaan sekitar US$ 9 Juta atau Rp134,6 Miliar.
Hal itu diungkapkan Ketua Komisi VII DPR, alat kelengkapan dewan yang membidangi penelitian, teknologi dan energi, Sugeng Suparwoto. Kepastian itu dinyatakan oleh Sugeng karena tim dari Amerika Serikat (AS) sudah berkunjung ke DPR pekan lalu. Dikatakan bahwa Negeri Paman Sam itu meminta izin untuk melakukan penelitian untuk mengetahui kandungan uranium di Kalimantan Barat.
“Komisi VII hampir setiap bulan dikunjungi oleh berbagai pemangku kepentingan dari luar negeri. Terakhir kemarin dari AS, minggu lalu persisnya. Mereka menyampaikan riset dengan biaya kurang lebih US$9 juta (Rp134,6 miliar) di Kalbar,” ujar Sugeng dalam diskusi daring bertajuk Politik dan Strategi Menuju Net Zero Emission, Kamis (26/1).
Dalam acara itu, Sugeng juga menjelaskan mengapa Kalbar dipilih menjadi wilayah yang hendak dilakukan riset karena di Kalbar memiliki cadangan nuklir yang terbilang cukup besar. Namun, Sugeng tak menyebut berapa besarannya.
Ia menjelaskan Kalbar merupakan salah satu sumber bahan baku bauksit yang bisa diubah menjadi aluminium. Menurutnya, secara unsur kimiawi bauksit mengikat unsur lain di dalamnya. “Ternyata secara unsur kimiawi bauksit itu mengikat unsur-unsur lain termasuk uranium di dalamnya.” ungkap Sugeng.
Atas alasan itu, kata Sugeng, Indonesia berpotensi punya cadangan uranium yang bisa diolah sendiri. Terlebih, jika AS sudah terbilang serius untuk melakukan riset di wilayah Kalbar. “Tapi kita sama-sama tahu kalau as sudah sangat tertarik apalagi dengan proposal yang real. Minggu lalu tiga orang dari AS langsung didampingi dubes AS datang ke Komisi VII,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menjelaskan sinyal membuka peluang untuk melanjutkan kerja sama nuklir dengan Rusia.”Yang jelas kami bekerja sama dengan semua pihak, kami bekerja sama dengan Rusia, Prancis, Kanada, AS, Jepang dan Korea. Jadi hampir semua negara yang memiliki teknologi itu (nuklir) kami bekerja sama. Dengan Rusia tidak menutup kemungkinan,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Bapeten Sugeng Sumbarjo di Jakarta pada bulan September tahun lalu.
Isu kerja sama dengan Rusia muncul ke permukaan usai pertemuan Joko Widodo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Juni tahun lalu. Dalam pertemuan itu Putin disebut tertarik untuk bekerja sama di bidang pengembangan teknologi nuklir. 2022.
Putin menjelaskan di negaranya ada beberapa perusahaan teknologi yang diklaim sudah berpengalaman seperti Rosatom, bersedia terlibat dalam proyek bersama.
Di samping itu Kepala Bapeten juga mengungkap lokasi yang rencananya akan dibangun reaktor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Sugeng menyebut Kalimantan Barat dan Bangka Belitung potensial menjadi PLTN meski masih diteliti oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Kalbar dan Babel yang potensial. Kalau lokasinya kami belum tahu persis di mana, masih diriset oleh BRIN,” ucapnya.(rfk/int)










