Sudah sebulan lebih ini keberadaan batu sebagai bahan utama campuran beton ready mix langka. Pekerjaan infrastruktur jalan maupun bangunan terancam terhambat bahkan bisa jadi mangkrak, dikarenakan perusahaan jasa penjualan beton ready mix tidak mampu melaksanakan pesanan dari kontraktor sesuai permintaan. Batu tidak ready dan harus menunggu lama untuk proses batching plant.
Selain itu,dampak terbesar yang menghadapi pelaksana kontrak pekerjaan, harga beton ready mix melonjak naik karena dampak ikutan kelangkaan batu tersebut. Sumber Fakta Kalbar di perusahaan penyedia beton ready mix, Wandi dan Eli (dua perusahaan berbeda) secara terus terang mengakui kelangkaan batu tersebut.
Batu yang diorder tidak serta merta mereka dapatkan, sementara stok batu diperusahaan mereka sudah kosong. “Perusahaan kami seharinya paling tidak perlu batu 150 meter kubik, untuk melayani pembeli.Apalagi ini bulan-bulan sibuk dan kejar target pekerjaan para pelaksana proyek.” jelas Eli.
Wandi dari perusahaan lainnya mengatakan hal yang sama. Kendala kelangkaan batu ini mereka rasakan sudah sebulan lebih. Sumber batu diinfokan keperlindungan hanya disediakan oleh satu perusahaan tambang dan pemecahan batu di Kecamatan Sungai Pinyuh, Peniraman. “Untuk Se Kalbar ini infonya hanya satu perusahaan ini saja yang bisa melayani pembeli atau jual batu. Apa ndak bingung namanya.” ungkap Wandi.
Eli lebih rinci menyebutkan kalau perusahaan penjual batu memang saat ini hanya dilakukan oleh PT Hansindo Mineral yang berlokasi di Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah. “Setiap hari antrean truk sangat panjang untuk dapat membeli dan memuat batu di Peniraman. Kita pesan 7 truk, yang bisa datang ngantar batu ke perusahaan kita cuma 2 truk, yang lain masih harus antri besok-besoknya,” terang Eli.
Penelusuran Fakta Kalbar dari berbagai sumber menjelaskan.Sejak bulan September 2022 ancaman kelangkaan batu di Kalbar sudah diprediksi.Pasalnya kendala izin ledakan yang sulit. Ketika izin ledak didapat oleh perusahaan pertambangan dan memecahkan batu, diperparah lagi izin produksi beberapa perusahaan ternyata “Mati” atau dicabut.
“Tidak mengherankan jika saat ini hanya PT Hansindo Mineral yang bisa melayani pembeli.Se Kalbar mungkin tinggal perusahaan yang izin produksinya masih hidup. Bayangkan untuk melayani se Kalbar, terutama perusahaan pemilik batching plant jelas tidak mampu.” ujar sumber Fakta Kalbar yang minta identitasnya tidak disebutkan.
Baik Wandi maupun Eli berharap pemerintah Kalbar, dalam hal ini Gubernur mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi kelangkaan batu di Kalbar. (rfk)










