faktakalbar

Wamen ESDM Ungkap Strategi RI Hadapi Gejolak Energi Global di Forum G20

Wamen ESDM Yuliot Tanjung mengungkap strategi Indonesia menghadapi gejolak energi global melalui peningkatan produksi minyak, B50, dan pengembangan energi terbarukan.

Penulis: Clara Thursday, 17 September 2026 📖 2 menit
Wamen ESDM Ungkap Strategi RI Hadapi Gejolak Energi Global di Forum G20
Wamen ESDM Yuliot Tanjung mengungkap strategi Indonesia menghadapi gejolak energi global melalui peningkatan produksi minyak, B50, dan pengembangan energi terbarukan. (dok/ESDM)

Faktakalbar.id - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkap sejumlah strategi Indonesia dalam menghadapi gejolak energi global yang dipengaruhi gangguan pasokan dan ketidakpastian geopolitik.

Strategi tersebut disampaikan Yuliot dalam G20 Energy Abundance Ministerial Meeting yang berlangsung di Houston, Texas, Amerika Serikat, pada 14–16 September 2026.

Dalam forum tersebut, Yuliot mengatakan Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional sembari mendorong transisi energi yang berkeadilan menuju target Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Saat ini, konsumsi BBM Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi domestik berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, pemerintah menargetkan produksi minyak nasional mencapai 1 juta barel per hari. Pemerintah juga membuka peluang investasi di 118 wilayah kerja migas dengan skema fiskal yang dinilai menarik bagi investor.

Selain minyak, pemerintah mendorong diversifikasi sumber energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan serta pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Salah satunya melalui program B50, yakni penggunaan campuran bahan bakar nabati hingga 50 persen pada solar.

Program B50 diproyeksikan dapat menggantikan kebutuhan impor solar sekitar 310 ribu barel per hari dan berpotensi menghemat hampir 10 miliar dolar AS per tahun. Pemerintah juga memperkirakan program tersebut dapat membuka lebih dari 2 juta lapangan kerja.

Di sektor ketenagalistrikan, pemerintah memperkirakan kebutuhan listrik tumbuh sekitar 5,3 persen setiap tahun. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dengan 76 persen berasal dari energi terbarukan.

Pemerintah juga mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GWp untuk mengurangi penggunaan pembangkit diesel dan energi fosil. Di sisi lain, batu bara masih menjadi salah satu sumber utama pasokan listrik nasional.

Yuliot menekankan bahwa setiap negara memiliki kondisi dan kebutuhan energi yang berbeda. Karena itu, Indonesia mendorong pendekatan yang memberikan ruang bagi masing-masing negara untuk menentukan teknologi dan sumber energi sesuai kondisi lokal.

Dalam forum G20, Indonesia juga mendorong keseimbangan antara ketahanan energi, keterjangkauan, akses energi, dan keberlanjutan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK