Teknologi AI dari Kalbar Bisa Prediksi Potensi Karhutla hingga 24 Bulan
Pengembang teknologi asal Kalbar menghibahkan sistem AI yang dapat memetakan risiko karhutla hingga 24 bulan ke depan untuk mendukung pencegahan dini.
Faktakalbar.id - Pengembang teknologi asal Kalimantan Barat, Hajon Mahdy melalui Hotama Technologies, menghibahkan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 24 bulan ke depan.
Teknologi tersebut diberikan secara gratis sebagai dukungan terhadap upaya pencegahan dan mitigasi karhutla, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Sistem ini menggunakan pendekatan predictive analytics dengan mengolah berbagai variabel dan data untuk memetakan tingkat risiko karhutla di suatu wilayah.
AI Membantu Mendeteksi Risiko Sebelum Api Muncul
Selama ini, teknologi pemantauan karhutla banyak digunakan ketika titik panas atau hotspot sudah muncul. Melalui sistem baru ini, pendekatan yang digunakan lebih menekankan pencegahan sejak dini.
Hajon menjelaskan, AI dapat membaca pola dari berbagai data untuk memberikan gambaran mengenai tingkat risiko kebakaran lebih awal. Dengan begitu, pemerintah dan pemangku kepentingan memiliki waktu lebih panjang untuk menentukan langkah mitigasi.
Namun, kemampuan proyeksi hingga 24 bulan tersebut bukan berarti AI dapat memastikan secara pasti kapan dan di mana kebakaran akan terjadi. Sistem menghasilkan indikasi probabilitas serta tingkat risiko yang dapat diperbarui seiring masuknya data terbaru.
Dilengkapi Peat Fire Vulnerability Index
Salah satu fitur yang dikembangkan adalah Peat Fire Vulnerability Index (PFVI). Indeks ini dirancang untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan tingkat kerentanan kebakaran pada kawasan gambut.
Hal tersebut penting karena karakteristik kebakaran gambut berbeda dengan lahan mineral. Ketika gambut mengering, api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan sehingga lebih sulit ditemukan dan dipadamkan.
Melalui PFVI, sistem dapat menggabungkan sejumlah indikator untuk mengklasifikasikan tingkat kerentanan suatu kawasan. Data tersebut kemudian dapat dipadukan dengan model AI untuk membantu menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih awal.
Bisa Membantu Menentukan Prioritas Mitigasi
Teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk memantau titik api. Informasi mengenai tingkat risiko dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan prioritas patroli, pembasahan lahan gambut, pengelolaan sumber air, hingga penempatan sumber daya.
Dengan adanya informasi risiko lebih awal, upaya penanganan diharapkan tidak selalu menunggu sampai kebakaran terjadi.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di Kalimantan Barat yang saat ini menghadapi ancaman karhutla. ANTARA juga melaporkan adanya kebakaran lahan gambut seluas 13,5 hektare di Singkawang yang masih dalam proses pemadaman dan pendinginan.
Teknologi Dihibahkan Secara Gratis
Hajon Mahdy memberikan teknologi tersebut secara cuma-cuma untuk mendukung pemerintah dan berbagai pihak dalam melakukan pencegahan karhutla.
Sistem ini juga membutuhkan integrasi berbagai sumber data. Semakin lengkap dan berkualitas data yang digunakan, semakin baik pemetaan risiko yang dapat dihasilkan sebagai bahan pendukung pengambilan keputusan.
Inisiatif tersebut sebelumnya diperkenalkan melalui diskusi strategis mengenai penanganan karhutla di Kalimantan Barat yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan instansi yang berkaitan dengan pengelolaan gambut serta sumber daya air.
AI Bukan Pengganti Petugas di Lapangan
Teknologi AI dalam sistem ini pada dasarnya berfungsi sebagai alat bantu pengambilan keputusan, bukan pengganti petugas di lapangan.
Prediksi yang dihasilkan dapat membantu menunjukkan wilayah mana yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi sehingga langkah pencegahan dapat diprioritaskan.
Dengan kombinasi data, teknologi, dan tindakan langsung di lapangan, sistem tersebut diharapkan dapat membantu mengubah pola penanganan karhutla dari yang sebelumnya lebih banyak bersifat reaktif menjadi lebih preventif.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.