faktakalbar

Pasien ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla Dilaporkan Melonjak

Kunjungan pasien ISPA meningkat di wilayah terdampak karhutla. Kemenkes mencatat 333.470 kasus kumulatif di tujuh provinsi hingga 21 Oktober 2026.

Penulis: Clara Saturday, 24 October 2026 📖 2 menit
Pasien ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla Dilaporkan Melonjak
Kunjungan pasien ISPA meningkat di wilayah terdampak karhutla. Kemenkes mencatat 333.470 kasus kumulatif di tujuh provinsi hingga 21 Oktober 2026. (dok.ist)

Faktakalbar.id - Kunjungan pasien rawat jalan dengan gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan meningkat di sejumlah fasilitas kesehatan yang berada di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini menjadi perhatian seiring dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.

Ketua Umum Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Iing Ichsan Hanafi, mengakui adanya peningkatan kunjungan pasien ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan pada wilayah terdampak karhutla. Meski demikian, ia menyebut pelayanan rumah sakit sejauh ini masih berjalan normal dan lonjakan kunjungan masih dapat ditangani.

Pernyataan tersebut disampaikan Iing saat ditemui di kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).

Menurut Iing, rumah sakit yang tergabung dalam ARSSI terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan organisasi profesi di daerah terdampak. Sejumlah fasilitas kesehatan juga melakukan langkah pencegahan untuk melindungi tenaga kesehatan dari paparan asap.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan multivitamin kepada tenaga kesehatan agar mereka tetap dapat menjalankan pelayanan kepada masyarakat.

Kemenkes Catat 333.470 Kasus ISPA

Dampak kesehatan akibat karhutla juga tercermin dalam data Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hingga 21 Oktober 2026, tercatat sebanyak 333.470 kasus ISPA secara kumulatif di wilayah terdampak karhutla.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menyampaikan bahwa dari jumlah tersebut, sebanyak 4.522 orang tercatat masih mengalami ISPA berdasarkan data harian pada 21 Oktober 2026.

Kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Dari total kasus kumulatif, sebanyak 75.172 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun, sedangkan 258.298 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.

Kemenkes juga mencatat bahwa tren kasus ISPA di sejumlah provinsi masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah termasuk wilayah yang mengalami peningkatan, sementara Sumatera Selatan dan Riau juga mencatat jumlah kasus yang lebih tinggi dibandingkan periode pembanding tahun lalu.

Paparan Asap Berisiko Mengganggu Kesehatan

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus serta berbagai polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Paparan tersebut dapat memicu keluhan seperti batuk, iritasi saluran pernapasan, dan memperburuk kondisi orang yang memiliki gangguan pernapasan sebelumnya.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker yang sesuai dan upaya mengurangi paparan asap dapat membantu menekan risiko.

Warga yang mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala yang memburuk perlu segera mencari pertolongan medis.

Rumah Sakit Perkuat Kesiapsiagaan

ARSSI menyatakan rumah sakit di wilayah terdampak terus berkoordinasi dengan dinas kesehatan dan organisasi profesi untuk menjaga pelayanan tetap berjalan. Perlindungan tenaga kesehatan menjadi bagian penting agar fasilitas kesehatan tetap mampu menangani pasien di tengah kondisi kabut asap.

Peningkatan kunjungan rawat jalan yang dilaporkan ARSSI menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan tantangan bagi kesehatan masyarakat dan layanan medis.

Karena itu, pengendalian kebakaran, pemantauan kualitas udara, pencegahan paparan asap, dan kesiapan fasilitas kesehatan perlu berjalan beriringan untuk mengurangi dampak karhutla terhadap masyarakat.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK