Kurangi Sampah ke TPS, DLH Kota Pontianak Mendorong 141 Sekolah Adiwiyata Bentuk Bank Sampah Mini
Faktakalbar.id - Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak menggenjot pembentukan bank sampah mini di seluruh sekolah Adiwiyata guna menekan volume sampah yang terbuang ke Tempat Penampungan Sementara pada Senin, 2 November 2026.
Faktakalbar.id - Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak menggenjot pembentukan bank sampah mini di seluruh sekolah Adiwiyata guna menekan volume sampah yang terbuang ke Tempat Penampungan Sementara pada Senin, 2 November 2026.
Dari total 141 sekolah yang berpartisipasi dalam program Adiwiyata di Kota Pontianak, baru sebanyak 35 sekolah yang tercatat telah mengoperasikan fasilitas bank sampah mini secara mandiri.
Pemerintah kota menargetkan peningkatan jumlah sekolah pengelola sampah tersebut secara bertahap melalui pembinaan teknis pemilahan kepada para siswa.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, menjelaskan bahwa program edukasi pemilahan sampah ini difokuskan pada perubahan perilaku murid sejak usia dini.
"Ini akan terus kita kembangkan. Anak-anak kita bina terlebih dahulu bagaimana cara memilah sampah, kemudian hasil pilahannya bisa dibawa ke sekolah dan menjadi tabungan mereka," terangnya.
Dalam pelaksanaannya, pihak dinas bermitra dengan Bank Sampah Rosella untuk membeli sampah plastik yang berhasil dikumpulkan serta dipilah oleh para siswa.
"Anak-anak kita ajarkan memilah sampah dari rumah. Setelah dibawa ke sekolah dalam keadaan terpilah, sampah tersebut dibeli melalui Bank Sampah Rosella dan hasilnya dimasukkan ke tabungan mereka," jelasnya.
Sampah jenis plastik tertentu yang dikumpulkan memiliki nilai ekonomi sekitar Rp4.000 per kilogram, yang kemudian langsung masuk ke rekening tabungan siswa.
Selain dijual, sampah plastik terpilah yang terkumpul dari sekolah-sekolah tersebut akan dialokasikan ke fasilitas pengolahan daerah untuk dimanfaatkan menjadi produk batako hingga meja.
"Sampah plastik yang sudah dipilah nantinya bisa diolah menjadi bahan yang berguna, seperti meja, batako, dan sebagainya. Jadi bukan hanya dikumpulkan, tetapi juga bisa dimanfaatkan kembali," ungkapnya.
Langkah reduksi dari sumber sampah ini dinilai efektif dalam mengurangi beban pengangkutan sampah akhir di wilayah perkotaan Pontianak.
"Kita berharap sejak usia dini anak-anak sudah sadar terhadap sampahnya sendiri," tuturnya.
Pendampingan lapangan akan terus dilakukan oleh petugas dinas agar keberadaan bank sampah di sekolah dapat berjalan secara berkelanjutan dan konsisten.
"Yang ingin kita bangun adalah kesadaran sejak dini. Anak-anak terbiasa memilah sampah, memahami manfaatnya, sekaligus mendapatkan nilai ekonomi. Harapannya, kebiasaan ini terus terbawa sampai mereka dewasa," pungkasnya.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.