faktakalbar

Karhutla Mulai Reda Setelah 176 Kali Water Bombing, Ancaman Api di Gambut Belum Hilang

Faktakalbar.id - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus dilakukan meski kondisi api di permukaan mulai mereda. Pemerintah masih mewaspadai potensi munculnya kembali api, terutama di kawasan lahan gambut yang masi…

Penulis: Clara Monday, 24 August 2026 📖 2 menit
Karhutla Mulai Reda Setelah 176 Kali Water Bombing, Ancaman Api di Gambut Belum Hilang
Karhutla di Kalimantan Selatan mulai mereda setelah 176 kali water bombing dalam sehari. Namun, lahan gambut masih mengeluarkan asap dan hotspot kembali meningkat menjadi 44 titik. (dok.ist)

Faktakalbar.id - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus dilakukan meski kondisi api di permukaan mulai mereda. Pemerintah masih mewaspadai potensi munculnya kembali api, terutama di kawasan lahan gambut yang masih mengeluarkan asap dari bawah permukaan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Penggalaman, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Minggu (23/8/2026). Area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 36 hektare dan berada di wilayah nonkawasan yang berbatasan dengan hutan lindung.

Raja Juli mengatakan karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan memastikan api di permukaan telah padam. Sebab, sumber panas masih dapat bertahan di bawah permukaan dan mengeluarkan asap sehingga berpotensi memicu kebakaran kembali.

Karena itu, proses pemadaman dan pembasahan lahan harus dilakukan secara menyeluruh hingga tidak ada lagi sumber panas yang tersisa.

176 Kali Water Bombing dalam Sehari

Upaya pemadaman karhutla di Kalsel diperkuat melalui operasi darat dan udara. Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, serta BNPB dilibatkan dalam penanganan kebakaran.

Dari sisi udara, operasi water bombing dilakukan sebanyak 176 kali dalam satu hari untuk membantu menekan titik panas di sejumlah wilayah. Raja Juli menyebut operasi tersebut efektif dalam menurunkan jumlah hotspot di Kalimantan Selatan.

Namun, penurunan titik panas belum menjadi alasan untuk menghentikan kewaspadaan. Berdasarkan data SiPongi, jumlah hotspot di Kalsel tercatat mencapai 157 titik pada 21 Agustus.

Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 11 titik pada 22 Agustus pukul 21.00 WIB. Akan tetapi, berdasarkan pemantauan pada 23 Agustus pukul 06.00 WITA, jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 44 titik.

Hotspot tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Tapin.

Gambut Masih Mengeluarkan Asap

Kondisi lahan gambut menjadi salah satu perhatian utama dalam penanganan karhutla. Meski api tidak lagi terlihat di atas permukaan, asap masih muncul dari bawah tanah.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa bara atau sumber panas masih dapat bertahan di dalam lapisan gambut. Jika tidak ditangani secara detail, api berpotensi kembali muncul dan meluas.

Pemerintah pun terus melakukan pembasahan dan pemadaman untuk memastikan sumber panas benar-benar hilang.

El Nino Diperkirakan Memuncak September

Kewaspadaan terhadap karhutla juga diperkuat karena fenomena El Nino masih berlangsung dan diperkirakan mencapai puncaknya pada September 2026.

Raja Juli mengingatkan masyarakat maupun perusahaan agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Pencegahan dinilai penting untuk menghindari munculnya titik api baru ketika kondisi lahan semakin kering.

Pemerintah akan terus memantau perkembangan hotspot serta memperkuat operasi pemadaman, khususnya di kawasan gambut yang memiliki risiko kebakaran berulang.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK