Irjen Pipit Rismanto Dan Aseng Penyandang Dana Listyo Sigit Prabowo Untuk Sadap Presiden
Faktakalbar.id - Irjen. Pipit Rismanto dan mitra bisnisnya, Sudianto alias Aseng, Melalui tambang emas dan bauksit ilegal Aseng di Kalimantan Barat. ditengarai menjadi salah satu sumber pendanaan terbesar bagi operasional alat sadap yang diduga digu…
Faktakalbar.id - Irjen. Pipit Rismanto dan mitra bisnisnya, Sudianto alias Aseng, Melalui tambang emas dan bauksit ilegal Aseng di Kalimantan Barat. ditengarai menjadi salah satu sumber pendanaan terbesar bagi operasional alat sadap yang diduga digunakan untuk menyadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh lainnya.
Dalam sejumlah podcast yang beredar luas, nama Pipit disebut dalam pembahasan dugaan penyadapan yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pipit disebut sebagai salah satu anak buah yang sangat dekat dengan Listyo Sigit.
Baca Juga: Penyadapan RI1 dan Gerakan Makar di Tubuh Polri? Beberapa Jendral Disebut Diamankan
Dalam podcast @abrahamsamadspeakup, Mantan perwira intelijen Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI Angkatan Darat yang kini aktif sebagai pengamat militer, Sri Radjasa menyinggung dugaan keterlibatan keluarga Listyo Sigit dalam perkara pertambangan ilegal yang berkaitan dengan Aseng.
"Berapa banyak yang telah terungkap namun tak pernah tersentuh, anaknya Kapolri yang perempuan, terlibat kasus Aseng, kasusnya yang tambang di mana, illegal mining. Aseng ini tukang merampok emas paling besar, ternyata ada namanya anaknya Sigit (Listyo Sigit Prabowo) di IUP (izin usaha pertambangan)-nya," kata Sri Radjasa.
Sementara itu, dalam podcast @forumkeadilanTV, Jurnalis senior, akademisi, serta pengamat komunikasi, politik, dan militer Dr. Selamat Ginting menyebut Pipit berpotensi ikut diperiksa dalam pengusutan aliran dana perkara Aseng.
"Misalnya Kapolda Kalbar yang kemudian menjadi Kapolda Jawa Barat, Irjen Pipit itu, kemungkinan juga akan diperiksa. Uangnya ke mana dalam kasus Aseng itu, ke mana uangnya mengalir? Kalau lagu Bengawan Solo itu, air mengalir sampai jauh. Apakah mengalir ke Solo? Saya kira ini akan dibongkar semua," ujar Selamat Ginting.
Dalam podcast lainnya, Selamat Ginting juga mengaitkan perkara Aseng dengan dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam penanganan kasus pertambangan.
Tumpukan emas hasil pertambangan ilegal di Kalimantan Barat. (Dok. Ist)
"Kasus ini menurut saya bukan hanya penyadapan, tapi juga penyalahgunaan dalam kasus-kasus tambang. Dalam kasus Aseng itu kemudian ditangkap, terafiliasi diduga dengan Irjen Polisi Pipit, Kapolda Kalbar kemudian menjadi Kapolda Jawa Barat, kemudian di masa Kapolri baru Suyudi digeser. Desas-desus itu sudah lama bahwa dana-dana itu digunakan ke mana, ya disetor ke elite polisi ini dan digunakan. Jadi ini bekerja sama dengan oligarki," kata Selamat.
Nama Pipit juga disebut Akbar Faizal dalam podcast AkbarFaizalUncensored. Ia menyinggung rekam jejak Pipit ketika bertugas di Kalimantan Barat hingga penunjukannya sebagai Kapolda Jawa Barat.
"Jadi Kapolda, dua kali lagi jadi Kapolda. Ketika dia masih menjadi Dirtipidter itu bermasalah. Saya katakan bermasalah karena adik saya korbannya, menggunakan tangan orang merampas perusahaan adik saya. Kok dia jadi Kapolda Kalimantan Barat, dan jadi Kapolda Jawa Barat sebelum langsung dicopot," ujar Akbar Faizal.
Pipit rismanto setelah listyo sigit menjadi tersangka dan ditahan, pipit rismanto sempat menjalani pemeriksaan dan di BAP secara insentif oleh penyidik Bareskrim Polri, namun hingga saat ini status Pipit belum menjadi tersangka.
Setoran Emas dari Jaringan Aseng
Fakta Kalbar memperoleh informasi dari seseorang yang pernah aktif dalam salah satu kelompok pengepul emas ilegal yang disebut berada di bawah jaringan Sudianto alias Aseng. Narasumber yang identitasnya dirahasiakan dan untuk sementara disebut Maman itu mengungkapkan adanya dugaan kewajiban setoran emas dari setiap kelompok pengepul.
Menurut Maman, Satu kelompok diduga harus menyetorkan sekitar 20 kilogram emas setiap bulan agar aktivitas mereka tetap berjalan aman. Namun, ia mengaku tidak mengetahui jumlah keseluruhan kelompok pengepul yang berada dalam jaringan tersebut di Kalimantan Barat.
"Setiap kelompok ada kewajiban setoran. Kalau yang saya ketahui, jumlahnya sekitar 20 kilogram emas setiap bulan dari masing-masing kelompok. Setoran itu supaya aktivitas mereka tetap aman. Tetapi saya tidak tahu berapa jumlah seluruh kelompok yang ada di Kalbar," kata Maman.
Ia juga menyebut setoran emas tersebut biasanya diambil oleh seseorang yang menggunakan mobil Mini Cooper. Emas dari sejumlah kelompok kemudian dikumpulkan untuk dibawa ke sebuah lokasi yang disebut-sebut berada di Kabupaten Sanggau.
"Biasanya ada orang yang mengambil setoran menggunakan mobil Mini Cooper. Emas itu dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dibawa ke suatu tempat di Kabupaten Sanggau," ujarnya.
Maman menduga lokasi tersebut berkaitan dengan tempat pertemuan rutin antara Pipit Rismanto dan Aseng. Menurut dia, keduanya disebut bertemu setiap pekan di kawasan tersebut.
"Setahu saya, emas itu dibawa ke wilayah Sanggau. Di sana Pipit dan Aseng disebut sering bertemu setiap minggu. Saya mengetahui informasi itu ketika masih berada dalam kelompok pengepul," kata Maman.
Pabrik, Vila, dan Lapangan Golf di Sanggau
Informasi mengenai dugaan aliran dana tersebut juga berkaitan dengan keterangan narasumber sebelumnya yang menyebut Pipit membangun sejumlah fasilitas di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Fasilitas itu antara lain pabrik, vila, hingga lapangan golf.
Pipit juga disebut memiliki keterkaitan dengan perusahaan berinisial PT RBN yang bergerak di bidang tapioka. Menurut narasumber, perusahaan tersebut menggunakan nama anak Pipit.
Narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan itu untuk sementara disebut Bima. Ia mengaku mengetahui aktivitas Pipit di wilayah Kabupaten Sanggau, khususnya kawasan Tayan, ketika Pipit masih bertugas di Kalimantan Barat.
Bima mengatakan, ketika masih menjabat Kapolda Kalimantan Barat, Pipit disebut kerap mendatangi wilayah di Sanggau pada Sabtu dan Minggu. Kunjungan tersebut dikaitkan dengan sebuah pabrik tapioka yang menurut narasumber telah dibeli Pipit di kawasan itu.
Menurut Bima, perjalanan tersebut tidak selalu dilakukan dengan pengawalan resmi. Pipit disebut terkadang hanya menggunakan kendaraan dengan seorang sopir sipil.
Narasumber itu juga menduga perjalanan tersebut digunakan untuk menemui Sudianto alias Aseng dan sejumlah orang lain yang disebut memiliki hubungan bisnis dengannya.
"Kalau akhir pekan, Sabtu atau Minggu, dia disebut sering pergi ke wilayah Tayan. Di sana ada pabrik tapioka yang menurut informasi saya dibelinya. Perjalanannya terkadang hanya dengan sopir sipil, tanpa pengawalan yang biasa terlihat pada seorang pejabat," ujar Bima.
Bima menduga pertemuan di kawasan tersebut berkaitan dengan pembagian hasil. Namun, ia belum memberikan bukti transaksi, catatan keuangan, atau dokumen lain yang dapat memastikan dugaan tersebut.
Ia juga menyebut adanya dugaan pengaturan perjalanan untuk menimbulkan kesan bahwa Pipit sedang berada di Jakarta. Menurut Bima, pemesanan tiket pesawat menuju Jakarta disebut dilakukan untuk mengalihkan perhatian dari aktivitas yang sebenarnya berlangsung di Kalimantan Barat.
Konfirmasi Pipit dan Pihak Terkait
Redaksi Fakta Kalbar telah berupaya meminta klarifikasi kepada Pipit Rismanto mengenai dugaan keterkaitannya dengan Aseng, pengelolaan aset di Kabupaten Sanggau, serta informasi aliran dana yang disampaikan para narasumber. Namun, hingga berita ini disusun, pesan konfirmasi yang dikirimkan belum mendapat balasan.
(TIM FK)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.