BPBD NTT Catat 7.968 Rumah dan 744 Fasilitas Umum Rusak Akibat Gempa
BPBD NTT mencatat 7.968 rumah dan 744 fasilitas umum serta infrastruktur rusak akibat gempa. Data masih sementara dan terus diverifikasi.
Faktakalbar.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat sebanyak 7.968 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut. Selain rumah, sebanyak 744 fasilitas umum dan infrastruktur juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Data tersebut merupakan hasil pendataan hingga Senin, 17 Agustus 2026, setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang berpusat di sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo. Kepala BPBD NTT Mahadin Sibarani mengatakan data kerusakan tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan.
Kerusakan Rumah Meningkat Signifikan
Jumlah rumah rusak mengalami peningkatan cukup besar dibandingkan laporan sebelumnya. Pada laporan situasi 15 Agustus 2026, BPBD NTT mencatat sebanyak 1.639 rumah mengalami kerusakan.
Dalam dua hari, angka tersebut meningkat menjadi 7.968 rumah, atau lebih dari empat kali lipat. Peningkatan tersebut salah satunya terjadi karena proses pendataan semakin luas di wilayah terdampak.
Kerusakan yang tercatat mencakup rumah dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat.
744 Fasilitas Umum dan Infrastruktur Rusak
Selain rumah warga, gempa juga berdampak pada berbagai fasilitas umum dan infrastruktur. BPBD NTT mencatat 744 unit fasilitas umum dan infrastruktur mengalami kerusakan.
Jumlah tersebut juga meningkat dibandingkan laporan 15 Agustus yang sebelumnya mencatat 163 fasilitas umum dan infrastruktur terdampak.
Pendataan kerusakan dilakukan di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Manggarai, Ngada, Nagekeo, dan Sikka.
Data Kerusakan Masih Diverifikasi
BPBD NTT menegaskan bahwa angka tersebut belum menjadi data final. Petugas masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap bangunan yang terdampak gempa.
Proses tersebut diperlukan untuk memastikan jumlah dan tingkat kerusakan yang dilaporkan sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Mahadin mengatakan pendataan akan terus dilakukan di kabupaten terdampak. Dengan proses tersebut, data kerusakan masih mungkin mengalami perubahan seiring masuknya laporan baru.
Gempa Susulan Masih Terjadi
Sementara itu, aktivitas gempa susulan di wilayah NTT masih berlangsung. BMKG mencatat 2.119 gempa susulan setelah gempa utama, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Dari ribuan gempa susulan tersebut, 70 gempa dilaporkan dirasakan masyarakat.
BMKG menyebut pola peluruhan gempa masih fluktuatif dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu untuk menjadi lebih stabil.
Pemerintah dan petugas di lapangan terus melakukan penanganan terhadap masyarakat terdampak, termasuk pendataan kerusakan, evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.