BMKG Ungkap Kondisi Kering Makin Meluas, Ini Wilayah yang Perlu Waspada
BMKG mengungkap kondisi kering semakin meluas saat puncak musim kemarau 2026. Sejumlah wilayah perlu mewaspadai kekeringan dan karhutla.
Faktakalbar.id - Kondisi cuaca kering semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia seiring berlangsungnya puncak musim kemarau 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak kondisi tersebut, terutama kekeringan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
BMKG sebelumnya memprakirakan musim kemarau 2026 datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Pada Agustus, wilayah yang memasuki periode puncak kemarau semakin meluas.
Wilayah yang Mengalami Puncak Kemarau
BMKG menyebut kondisi kering pada Agustus terutama mendominasi Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Maluku, serta Papua.
Sementara itu, memasuki September, puncak kemarau masih berpotensi berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk sebagian Lampung, sebagian Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian utara dan timur, Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Papua.
Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah yang mengalami kemarau panjang perlu mulai melakukan berbagai langkah antisipasi.
Risiko Karhutla Meningkat
Cuaca yang panas dan kering membuat vegetasi serta lahan lebih mudah kehilangan kelembapan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kebakaran apabila terdapat sumber api.
Di sejumlah daerah, BMKG bahkan telah mengeluarkan peringatan kewaspadaan karhutla. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, seluruh kabupaten dan Kota Yogyakarta masuk kategori awas untuk potensi karhutla pada periode 23–29 Agustus 2026.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membakar sampah di lahan terbuka atau membuang puntung rokok sembarangan.
Kemarau Berpotensi Berlangsung Lebih Panjang
Kondisi kemarau tahun ini juga dipengaruhi oleh perkembangan El Niño. BMKG menyebut fenomena tersebut berpotensi membuat curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia lebih rendah sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang.
BMKG juga mencatat Juli 2026 sebagai Juli terkering sejak 1991 berdasarkan rata-rata curah hujan nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa periode kering tahun ini perlu mendapat perhatian lebih.
Meski demikian, dampak El Niño tidak sama di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa wilayah memiliki pola hujan yang berbeda sehingga penurunan curah hujannya tidak sebesar wilayah lainnya.
Dampak Tidak Hanya pada Karhutla
Musim kemarau panjang tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kondisi kering juga dapat berdampak pada ketersediaan air bersih, pertanian, irigasi, kesehatan, hingga aktivitas masyarakat.
Di Belitung, misalnya, BMKG bahkan memprakirakan musim kemarau berpotensi berlangsung hingga dasarian II November 2026, lebih panjang dibandingkan perkiraan awal yang berakhir pada dasarian III Oktober.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih bijak menggunakan air, terutama di wilayah yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air.
Masyarakat Diminta Hemat Air
Menghadapi kondisi cuaca yang semakin kering, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah sederhana, seperti:
- Menghemat penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
- Tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan.
- Tidak membuang puntung rokok di area kering.
- Memantau informasi cuaca dan peringatan dini BMKG.
- Segera melaporkan apabila menemukan titik api.
- Mengantisipasi kebutuhan air apabila tinggal di wilayah yang rawan kekeringan.
Kewaspadaan masyarakat menjadi penting karena api dapat lebih mudah menyala dan menyebar ketika kondisi lingkungan sangat kering.
Warga Kalimantan Juga Perlu Waspada
Bagi masyarakat di Kalimantan, kondisi musim kemarau perlu menjadi perhatian khusus karena sejumlah wilayah berada dalam periode puncak kemarau.
BMKG sebelumnya memprakirakan sebagian besar Kalimantan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus. Sementara itu, Kalimantan Timur juga mendapat peringatan mengenai potensi kemarau panjang yang dapat berlangsung hingga awal 2027 akibat kombinasi kondisi atmosfer yang mendukung cuaca kering.
Karena itu, pencegahan karhutla perlu dilakukan bersama, mulai dari pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.