faktakalbar

Ada Daratan Baru di Dekat Anak Krakatau, Ini Penjelasan Ahli

Daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah erupsi awal September 2026. Badan Geologi menjelaskan penyebab dan status dua gumuk tersebut.

Penulis: Clara Friday, 25 September 2026 📖 2 menit
Ada Daratan Baru di Dekat Anak Krakatau, Ini Penjelasan Ahli
Daratan baru muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah erupsi awal September 2026. (dok.ist)

Faktakalbar.id - Kemunculan daratan di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menjadi perhatian setelah sejumlah foto dan video mengenai fenomena tersebut beredar di media sosial.

Fenomena itu muncul setelah rangkaian aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemudian melakukan evaluasi menggunakan citra satelit Sentinel untuk melihat perubahan morfologi kawasan tersebut.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau, terutama di sektor barat laut hingga barat barat daya.

Bertambah 32,8 Hektare

Badan Geologi memperkirakan penambahan daratan tersebut mencapai sekitar 32,8 hektare. Material yang membentuk daratan berasal dari endapan material piroklastik dan aliran lava akibat erupsi yang berlangsung pada 4 hingga 6 September 2026.

Selain penambahan daratan pada tubuh gunung, citra satelit juga menunjukkan adanya dua gumuk atau tonjolan daratan kecil di sekitar Anak Krakatau.

Kedua gumuk tersebut berada di sektor barat laut dan tenggara dari tubuh gunung api.

Meski demikian, Badan Geologi menegaskan bahwa keberadaan dua gumuk tersebut belum dapat dipastikan sebagai pulau atau gunung api baru. Interpretasi dari citra satelit masih bersifat sementara dan membutuhkan verifikasi langsung di lapangan.

Bukan Berarti Muncul Gunung Api Baru

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus mantan pejabat BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa daratan yang terlihat tersebut berkaitan dengan akumulasi material vulkanik hasil erupsi.

Material seperti abu, batuan, dan lava dapat terbawa serta mengendap di sekitar tubuh Anak Krakatau. Seiring penumpukan material, bagian tersebut kemudian dapat terlihat hingga berada di atas permukaan laut.

Kondisi dasar laut di sekitar kawasan kaldera purba Krakatau yang relatif dangkal juga memungkinkan material hasil erupsi lebih mudah mengalami penumpukan.

Karena itu, kemunculan daratan tersebut tidak secara otomatis menunjukkan terbentuknya gunung api baru.

Aktivitas Anak Krakatau Masih Dipantau

Perubahan morfologi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sepanjang 2026.

Badan Geologi mencatat Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak 2 Juli 2026. Aktivitas kemudian kembali meningkat pada awal September.

Pada 5 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh serta aliran lava yang menyerupai air mancur lava. Pada 8 September, gunung api tersebut kembali mengalami dua kali erupsi.

Sementara itu, BMKG menegaskan bahwa pemantauan dan analisis vulkanologi Gunung Anak Krakatau merupakan kewenangan Badan Geologi. BMKG berperan dalam memantau dampak erupsi berupa abu vulkanik, termasuk arah dan kecepatan angin serta potensi dampaknya terhadap penerbangan dan pelayaran.

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati kawasan sekitar Anak Krakatau. Masyarakat diminta menjauhi radius 2 kilometer dari pusat erupsi, sedangkan untuk lokasi dua gumuk yang terdeteksi, jarak aman yang dianjurkan adalah 1 kilometer.

Dengan demikian, daratan yang muncul di sekitar Anak Krakatau memang berkaitan dengan aktivitas vulkanik dan penumpukan material hasil erupsi. Namun, dua tonjolan yang terlihat dari citra satelit masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut sebelum dapat disebut sebagai pulau baru.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK