Sulit Tidur atau Malah Tidur Seharian Saat Stres? Ternyata Ini Penyebab Medis dan Psikologisnya

"Kenapa saat sedih ada yang insomnia dan ada yang tidur terus? Kenali alasan medis di balik hormon kortisol hingga mekanisme pelarian diri saat stres."
Kenapa saat sedih ada yang insomnia dan ada yang tidur terus? Kenali alasan medis di balik hormon kortisol hingga mekanisme pelarian diri saat stres. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda merasa sangat sedih lalu mendapati diri terjaga hingga fajar menyingsing? Atau sebaliknya, saat sedang dilanda tekanan mental yang hebat, Anda justru bisa tertidur pulas belasan jam seolah enggan menghadapi dunia?

Perbedaan respons tubuh terhadap tekanan emosional ini sering kali memicu pertanyaan.

Ternyata, reaksi fight-or-flight atau sistem pertahanan diri manusia bekerja secara unik pada setiap individu saat menghadapi stres.

Baca Juga: Sering Diabaikan, Ini 5 Tanda Tubuh Kamu Kurang Gula Secara Psikologis dan Fisik

Berikut adalah alasan medis dan psikologis mengapa pola tidur seseorang bisa berubah drastis saat stres atau sedih:

1. Respons Kortisol yang Berlebihan (Insomnia)

Bagi mereka yang sulit tidur saat stres, penyebab utamanya adalah hormon kortisol.

Saat pikiran merasa terancam, tubuh melepaskan kortisol dan adrenalin yang membuat sistem saraf tetap dalam kondisi waspada atau hyperarousal.

Kondisi ini memaksa otak untuk terus berpikir (overthinking), sehingga mata sulit terpejam meskipun tubuh terasa sangat lelah.

2. Mekanisme Koping Defensif (Tidur Seharian)

Di sisi lain, ada orang yang merespons kesedihan dengan tidur berlebihan atau hipersomnia.

Secara psikologis, ini adalah bentuk escapism atau pelarian dari realitas yang menyakitkan.

Tidur menjadi mekanisme pertahanan diri agar otak tidak perlu memproses emosi negatif yang terlalu berat. Dalam kondisi ini, tidur berfungsi sebagai “tombol jeda” dari rasa sakit emosional.

3. Gangguan Ritme Sirkadian

Stres dan kesedihan yang mendalam dapat mengacaukan jam biologis tubuh atau circadian rhythm. Ketidakseimbangan hormon serotonin dan melatonin sering terjadi saat seseorang mengalami tekanan mental. Akibatnya, ada yang mengalami pergeseran waktu tidur (baru bisa tidur saat pagi) atau kehilangan kemampuan untuk merasa segar meskipun sudah tidur lama.