Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernikahan sering kali digambarkan sebagai penyatuan dua insan yang setara.
Namun, dalam realitas sosial yang masih kental dengan budaya patriarki, perempuan sering kali memikul beban yang jauh lebih berat tanpa disadari.
Beban ini kerap dianggap sebagai “kodrat” atau kewajiban alami, padahal merupakan konstruksi sosial yang melanggengkan ketidaksetaraan.
Memahami beban ganda ini bukan bertujuan untuk memicu konflik, melainkan untuk membangun kesadaran akan pentingnya kerja sama yang adil dalam rumah tangga.
Baca Juga: Gugat Dominasi Patriarki, Gemawan Soroti Nasib Perempuan Pengelola Alam yang Terhapus Administrasi
Berikut adalah 5 beban ganda perempuan saat menikah yang sering kali tidak disadari:
1. Peran Domestik yang Tak Terbagi (The Second Shift)
Meskipun banyak istri yang kini bekerja di ranah publik dan memiliki karier cemerlang, tanggung jawab urusan dapur, kebersihan rumah, hingga mencuci pakaian sering kali tetap dibebankan sepenuhnya kepada perempuan.
Fenomena the second shift ini membuat perempuan harus memulai “shift” kedua di rumah setelah lelah bekerja seharian di kantor, sementara laki-laki sering kali dianggap cukup hanya dengan mencari nafkah.
2. Beban Mental (Mental Load)
Beban ini sering kali tidak terlihat namun sangat melelahkan.
Perempuan biasanya menjadi “manajer” operasional rumah tangga; mulai dari mengingat jadwal imunisasi anak, memastikan stok beras tersedia, hingga merencanakan menu makan harian.
Laki-laki mungkin membantu, namun biasanya hanya sebagai “pelaksana” instruksi. Tanggung jawab untuk memikirkan dan mengatur segala detail kehidupan domestik ini adalah beban kognitif yang sangat besar bagi perempuan.
3. Pengasuhan Anak sebagai Tugas Utama
Budaya patriarki sering kali menempatkan ayah sebagai sosok pendukung (supporting system) dan ibu sebagai pengasuh utama.
Akibatnya, jika anak mengalami masalah di sekolah atau jatuh sakit, lingkungan sosial cenderung menyalahkan ibu terlebih dahulu.
Beban moral ini memaksa perempuan untuk selalu menjadi sosok yang serba bisa dalam mendidik anak, sementara peran ayah sering kali hanya sebatas pemberi nafkah finansial.
















