Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pernahkah Anda mengalami momen canggung saat ingin menyapa seorang balita, namun si anak justru menangis histeris seolah melihat sosok yang menakutkan? Kejadian ini sering kali memicu candaan dari orang sekitar, “Wah, anaknya nangis, berarti yang datang orang jahat, nih!”
Lantas, benarkah reaksi anak kecil tersebut menjadi indikator moralitas seseorang? Ataukah itu hanya mitos turun-temurun yang tidak memiliki dasar ilmiah? Mari kita bedah alasan psikologis di balik tangisan anak saat melihat orang baru:
1. Fenomena Stranger Anxiety
Dalam dunia psikologi perkembangan, terdapat fase yang disebut stranger anxiety atau kecemasan terhadap orang asing.
Baca Juga: Kasur Terasa Posesif? Ini Alasan Psikologis Kenapa Hari Sabtu Rasanya Ingin Berbaring di Rumah Saja
Fase ini biasanya muncul saat bayi berusia 6 hingga 12 bulan dan bisa berlanjut hingga usia balita.
Ini adalah tanda perkembangan kognitif yang sehat, di mana anak mulai bisa membedakan antara wajah yang familier (orang tua/pengasuh) dengan wajah yang baru mereka lihat.
Jadi, mereka menangis bukan karena Anda jahat, melainkan karena Anda “berbeda” dari orang yang biasa mereka lihat.
2. Kontak Mata yang Terlalu Intens
Bagi orang dewasa, menatap mata lawan bicara adalah bentuk kesopanan.
Namun bagi anak kecil, ditatap secara intens oleh orang asing yang badannya jauh lebih besar bisa terasa seperti sebuah ancaman atau intimidasi.
Refleks alami mereka saat merasa terintimidasi adalah menangis untuk meminta perlindungan kepada orang tuanya.
3. Energi dan Ekspresi Wajah
Anak-anak sangat peka terhadap ekspresi mikro dan energi seseorang.
Jika Anda mendekati anak saat Anda sedang terburu-buru, stres, atau memiliki ekspresi wajah yang terlalu kaku, anak bisa menangkap sinyal “ketidaknyamanan” tersebut.
Mereka belum bisa memproses emosi kompleks, sehingga rasa tidak nyaman itu diterjemahkan sebagai rasa takut.
















