Mengobati Rindu Perantau, Ini Alasan Psikologis Kenapa Dengar Lagu Daerah Bikin Kangen Rumah

"Sedang merantau? Cari tahu alasan psikologis mengapa lagu daerah selalu berhasil bikin kangen rumah, mulai dari memori kolektif hingga identitas diri."
Sedang merantau? Cari tahu alasan psikologis mengapa lagu daerah selalu berhasil bikin kangen rumah, mulai dari memori kolektif hingga identitas diri. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi Anda yang sedang berada di perantauan, mendengarkan satu bait lagu daerah asal kampung halaman sering kali memicu rasa sesak di dada yang kita kenal sebagai rindu.

Menariknya, perasaan ini muncul bukan hanya karena kita memahami liriknya, melainkan karena ada ikatan emosional dan memori yang sangat kuat yang tersimpan dalam alunan musik tradisional tersebut.

Fenomena “pulang kampung” lewat telinga ini ternyata memiliki penjelasan psikologis yang mendalam.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa lagu daerah selalu berhasil membuat kita rindu rumah:

Baca Juga: Lagi Homesick? Ini 5 Film Terbaik yang Ampuh Obati Rasa Kangen Rumah

1. Kaitan Erat dengan Identitas Diri

Lagu daerah adalah bagian dari akar budaya yang membentuk identitas kita sejak kecil.

Saat mendengar bahasa ibu (mother tongue) yang digunakan dalam lirik lagu, otak kita secara otomatis mengaktifkan bagian memori yang berkaitan dengan rasa aman dan penerimaan.

Musik tersebut mengingatkan kita pada siapa diri kita sebenarnya di tengah hiruk-pikuk dunia luar yang asing.

2. Memori Kolektif Masa Kecil

Lagu daerah biasanya pertama kali kita dengar saat masa kanak-kanak, baik itu lewat senandung ibu saat menidurkan kita, acara adat di desa, hingga perayaan hari besar di kampung.

Memori ini bersifat kolektif; artinya, lagu tersebut tidak hanya mengingatkan kita pada satu kejadian, tetapi pada seluruh suasana hangat di rumah, aroma masakan, hingga wajah orang-orang tersayang.

3. Instrumen Musik yang Khas

Penggunaan instrumen tradisional seperti sape, gamelan, atau seruling memiliki frekuensi yang sering kali dianggap “akrab” oleh telinga orang yang tumbuh besar di daerah asalnya.

Suara instrumen ini mampu memicu nostalgia yang lebih kuat dibandingkan alat musik modern karena ia membawa nuansa alam dan lingkungan tempat kita dibesarkan.