OPINI – Mohon maaf ni buat pendukung RSS atau Tiroris, sepertinya trio tersangka itu tersisa dua. Sebab, Rismon si ahli forensik berbalik arah. Awalnya ia percaya diri menyatakan ijazah Jokowi palsu, sekarang dibilang asli pula. “Ada apa ni guru?” Simak kisah Rismon ini sambil imagine seruput koptagul, lae!
Republik ini memang tidak pernah kekurangan drama. Di negeri yang debatnya bisa lebih panas dari wajan goreng bakwan, satu dokumen tiba-tiba pernah berubah menjadi benda paling sakral setelah kitab filsafat Yunani, ijazah milik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Ijazah yang mestinya cuma disimpan di map cokelat, mendadak diperlakukan seperti artefak arkeologi. Dipindai, diperbesar, dianalisis, disorot lampu, bahkan mungkin hampir dimintai horoskopnya.
Tokoh utama dalam bab terbaru drama kosmik ini adalah ahli digital forensik Rismon Sianipar. Dulu ia berdiri di tengah panggung publik dengan keyakinan hampir absolut, seperti ilmuwan yang baru menemukan planet baru.
Dengan angka yang sangat presisi, 99,9 persen, ia menyatakan ijazah Jokowi kemungkinan besar palsu. Angka itu begitu spesifik sampai publik merasa seperti sedang mendengar hasil eksperimen laboratorium, bukan polemik politik.
Seketika republik berubah menjadi laboratorium nasional. Grup WhatsApp keluarga mendadak berisi diskusi tentang watermark, embos, resolusi citra, dan teknik digital forensik.
Orang yang kemarin sibuk menanam cabai, hari ini bisa menjelaskan analisis piksel dengan semangat profesor MIT.
Namun semesta ternyata punya selera humor yang tajam.
Setelah dua bulan melakukan penelitian ulang secara intensif, lengkap dengan gradien analysis, rotasi, translasi, serta berbagai operasi geometri yang terdengar seperti jurus bela diri bagi piksel, Rismon akhirnya muncul lagi ke publik.
Kali ini bukan membawa palu tuduhan, melainkan sebuah koreksi besar.
Ia menyatakan, ijazah Jokowi asli.
Ya, asli.
Sebuah plot twist yang membuat sebagian publik terdiam seperti penonton film yang baru sadar tokoh antagonis ternyata cuma salah paham dari awal.
Rismon menjelaskan, kesalahan analisis sebelumnya terdapat pada dua komponen penting dokumen, watermark dan embos.
Dalam penelitian awal, ia mengira kedua elemen tersebut tidak ada. Namun setelah diuji ulang dengan metodologi yang sama tetapi dengan variabel tambahan, rotasi, translasi, serta pengaruh pencahayaan pada objek digital, ternyata watermark dan embos itu memang ada di dokumen tersebut.
Dengan kata lain, misteri besar yang selama ini menghebohkan republik ternyata sebagian berasal dari cara kamera melihat, bukan dari dokumennya sendiri.
Dalam pengakuannya, Rismon juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada Jokowi dan keluarganya. Ia mengatakan temuan sebelumnya telah menimbulkan kegaduhan dan melukai pihak yang bersangkutan.
Permintaan maaf ini cukup langka dalam ekosistem politik Indonesia, tempat banyak orang lebih mudah mengganti topik daripada mengakui kekeliruan.
Sebagai peneliti, kata Rismon, dunia akademik bersifat progresif. Temuan bisa berubah ketika data lebih lengkap dan analisis diperbaiki
. Ilmu pengetahuan memang begitu: kadang membuat peneliti harus menelan pil pahit bernama koreksi.
Di sisi lain, drama tetap berlanjut. Rekannya dalam penulisan buku Jokowi’s White Paper, yakni Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma, justru mengambil posisi berbeda.
Roy menegaskan, dirinya tidak mundur 0,1 persen pun dari sikapnya. Angka itu terdengar seperti sisa matematika dari 99,9 persen yang dulu menjadi dasar tuduhan.
Dalam logika politik Indonesia, angka kadang tidak sekadar angka. Ia bisa berubah menjadi simbol keteguhan, bahkan ketika realitas bergerak ke arah berbeda.
Sementara itu, di ranah hukum, Rismon juga mengajukan permohonan restorative justice kepada Polda Metro Jaya. Itu setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tuduhan ijazah palsu.
Ia menyampaikan temuan barunya kepada penyidik dan menegaskan, seluruh penelitian yang ia lakukan murni didorong rasa ingin tahu ilmiah, bukan motif politik.
Begitulah akhirnya saga ini memberi pelajaran unik bagi republik yang gemar berdebat. Kebenaran ilmiah kadang tidak datang seperti kilat yang menyambar langit.
Ia lebih sering muncul seperti mahasiswa yang telat masuk kelas, datang belakangan. Ia membawa catatan baru, lalu berkata dengan tenang, kesimpulan lama perlu direvisi.
Sementara publik hanya bisa tertawa getir melihat perjalanan panjang ini. Dari tuduhan 99,9 persen palsu hingga pengakuan bahwa dokumen itu asli.
Baca Juga: SBY Merasa Terganggu Dikaitkan Isu Ijazah Jokowi, Pertimbangkan Somasi hingga Jalur Hukum
Republik kembali belajar satu hal sederhana namun mahal harganya, dalam dunia yang penuh opini, menemukan kebenaran kadang membutuhkan dua bulan penelitian, beberapa konferensi pers, dan keberanian untuk berkata, “Ya, saya keliru.”
“Duh, bang. Geng Termul pasti ngakak lihat tabiat Rismon.”
“Hus, jangan gitu, wak. Masih ada Roy dan Tifa. Drama masih lanjut.” Ups.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
















