OPINI – Pagi Ramadan selalu memiliki suasana yang berbeda. Setelah salat Subuh, ketika cahaya matahari mulai menyentuh halaman masjid dan jemaah masih duduk tenang menunggu waktu syuruq, Al-Qur’an terasa berbicara lebih dalam kepada hati.
Salah satu surah yang sangat kuat pesan reflektifnya pada waktu seperti itu adalah Surah An-Nahl.
Surah ini mengajak manusia merenungi nikmat Allah yang begitu luas sekaligus memperingatkan agar manusia tidak menjadi makhluk yang lupa bersyukur.
Allah membuka surah ini dengan kalimat yang mengguncang kesadaran manusia:
Atā amrullāhi falā tasta‘jilūh “Telah pasti datang ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan.” (QS. An-Nahl: 1)
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak akan berlangsung selamanya. Segala yang manusia bangun, kekuasaan, kekayaan, bahkan peradaban, pada akhirnya akan kembali kepada keputusan Allah.
Karena itu manusia tidak seharusnya hidup dalam kesombongan atau kelalaian. Ramadan hadir untuk mengembalikan manusia kepada kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan menuju akhirat.
Setelah ayat pembuka tersebut, Surah An-Nahl mengajak manusia melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta.
Allah menyebut penciptaan langit dan bumi, turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, hewan ternak yang memberi susu dan daging, hingga laut yang menghasilkan makanan bagi manusia.
Semua itu bukan sekadar fenomena alam, tetapi ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan manusia kepada Sang Pencipta.
Di tengah rangkaian ayat tersebut Allah menegaskan sebuah kalimat yang sangat mendalam:
Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā “Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Ayat ini sering dibaca, tetapi jarang direnungkan secara serius. Manusia sering menghitung masalahnya, tetapi jarang menghitung nikmat yang telah diterimanya.
Kita mudah mengingat satu kesulitan, tetapi lupa pada ratusan kemudahan yang setiap hari diberikan Allah. Nafas yang masih berjalan, tubuh yang masih bergerak, keluarga yang masih ada, bahkan kesempatan untuk beribadah di bulan Ramadan, semua adalah nikmat yang tidak ternilai.
Surah ini kemudian menampilkan salah satu simbol yang sangat indah dalam Al-Qur’an, yaitu lebah. Allah berfirman:
Wa awḥā rabbuka ilā an-naḥli anittakhidzī minal jibāli buyūtan wa minas syajari wa mimmā ya‘risyūn “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan di tempat yang dibangun manusia.” (QS. An-Nahl: 68)
Lebah adalah makhluk kecil, tetapi memiliki sistem kehidupan yang luar biasa. Ia bekerja dengan disiplin, mengambil sari bunga, dan menghasilkan madu yang menjadi obat bagi manusia. Dalam ayat berikutnya Allah menyatakan:
Fīhi syifā’un linnās “Di dalamnya terdapat obat bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)
Pesan dari ayat ini sangat dalam. Allah menunjukkan bahwa bahkan makhluk kecil pun menjalankan tugasnya dengan penuh ketundukan kepada aturan Allah. Lebah tidak pernah merusak bunga yang ia datangi.
Ia mengambil secukupnya, lalu memberi manfaat yang jauh lebih besar bagi kehidupan.
Bandingkan dengan manusia. Manusia diberi akal, diberi ilmu, dan diberi kekuasaan atas bumi, tetapi sering justru merusak alam dan melupakan tanggung jawabnya.
Karena itu Surah An-Nahl juga merupakan peringatan terhadap kesombongan manusia modern.
Surah ini kemudian menjelaskan bahwa banyak manusia menikmati nikmat Allah tetapi tetap mengingkari-Nya. Mereka menikmati rezeki, kesehatan, dan kemakmuran, tetapi hati mereka tidak mengenal rasa syukur.
Inilah yang disebut kufur nikmat, menggunakan karunia Allah untuk jalan yang tidak diridhai-Nya.
Di bagian akhir surah, Allah memberikan prinsip moral yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Ayat yang sering dibacakan dalam khotbah Jumat ini menjadi salah satu ayat etika paling kuat dalam Al-Qur’an:
Innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsāni wa ītā’i żil-qurbā wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-bagyi “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat baik, dan memberi kepada kerabat; serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini merangkum fondasi moral Islam. Ada tiga perintah utama: keadilan, kebaikan, dan kepedulian sosial. Dan ada tiga larangan besar: kejahatan moral, kemungkaran, dan kezaliman.
Surah ini juga memberikan pedoman penting dalam berdakwah. Allah berfirman:
Ud‘u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau‘izhah al-ḥasanah “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan, bukan dengan kebencian atau pemaksaan.
Pada akhirnya Surah An-Nahl mengajak manusia untuk kembali kepada kesadaran paling dasar dalam kehidupan: bersyukur. Bersyukur bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan cara hidup.
Bersyukur berarti menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan, menjaga alam, dan membangun kehidupan yang penuh keadilan.
Ketika matahari pagi Ramadan mulai naik perlahan, pesan Surah An-Nahl terasa semakin jelas: hidup ini penuh dengan tanda-tanda kasih sayang Allah. Alam semesta adalah kitab terbuka yang mengingatkan manusia tentang kebesaran-Nya.
Bahkan lebah kecil yang terbang di antara bunga pun membawa pelajaran tentang ketundukan, kerja keras, dan manfaat bagi sesama.
Baca Juga: Refleksi Kepemimpinan: 5 Tanda Psikologis Anda Perlu Memperbaiki Gaya Manajerial
Maka orang beriman seharusnya belajar dari lebah: hidupnya sederhana, tetapi kehadirannya memberi manfaat bagi banyak orang.
Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki cara kita memandang kehidupan. Jika manusia mampu melihat nikmat Allah dengan hati yang jernih, ia akan menemukan bahwa hidup ini sebenarnya dipenuhi dengan rahmat.
Dan ketika hati dipenuhi syukur, kehidupan akan terasa jauh lebih ringan, penuh makna, dan dekat dengan Tuhan.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















