Opini  

Ketika Sabar Berbuah Cahaya: Ibrah Surah Yusuf di Pagi ke-10 Ramadhan

Ilustrasi - Pengajian Ramadan hari ke-10 membahas ibrah Surah Yusuf tentang strategic patience, kesabaran, pemaafan, dan rencana Allah yang melampaui skenario manusia. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Pengajian Ramadan hari ke-10 membahas ibrah Surah Yusuf tentang strategic patience, kesabaran, pemaafan, dan rencana Allah yang melampaui skenario manusia. (Dok. Ist)

OPINI – Pagi ini adalah pengajian ke-10 Ramadan. Seusai subuh, masjid masih setengah sunyi. Cahaya pagi menembus jendela, menyentuh lembar mushaf yang terbuka pada Surah Yusuf ayat 73-111.

Ada ketenangan yang berbeda di hari kesepuluh ini, seolah separuh hati kita sudah lebih lunak, lebih siap menerima hikmah. Bagian akhir Surah Yusuf bukan lagi tentang mimpi masa kecil.

Ia adalah bab tentang ujian reputasi, kesabaran panjang, dan kemenangan tanpa dendam.

Di sinilah kisah mencapai puncaknya, dan justru di situlah pelajaran paling dalam disimpan. Ketika saudara-saudara Yusuf dituduh mencuri piala raja, mereka bersumpah:

Baca Juga: Safari Ramadan di Rasau Jaya, Masjid Al Hidayah Terima Bantuan Ratusan Juta Rupiah

Tallah, laqad ‘alimtum ma ji’na linufsida fil ardhi wa ma kunna sariqin.” “Demi Allah, sungguh kamu mengetahui bahwa kami tidak datang untuk berbuat kerusakan dan kami bukanlah pencuri.” (QS. Yusuf: 73)

Ironisnya, tuduhan itu adalah bagian dari skenario Yusuf sendiri untuk menahan Bunyamin. Di sini kita belajar tentang strategi Ilahi.

Kadang hidup terasa tidak adil, tetapi sesungguhnya Allah sedang menyusun panggung untuk akhir yang lebih besar. Dalam kehidupan modern, ini adalah pelajaran tentang strategic patience, tidak semua masalah harus diselesaikan dengan reaksi spontan.

Lalu kita melihat Yakub. Seorang ayah yang kehilangan dua anaknya sekaligus. Namun lisannya tetap berkata:

Fa sabrun jamil.” “Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).” (QS. Yusuf: 83)

Dan lebih dalam lagi:

Innahu la yay’asu min rawhillah illa al-qawmul kafirun.” “Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Di pengajian pagi ini, kalimat itu terasa seperti teguran lembut. Putus asa bukan sekadar emosi, tetapi indikator lemahnya keyakinan. Kita sering cemas pada masa depan: karier, ekonomi, anak-anak, reputasi. Namun, Surah Yusuf mengajarkan bahwa harapan adalah bentuk ibadah.

Bagian paling menggetarkan datang ketika saudara-saudara Yusuf akhirnya sadar dan berkata:

Tallah, laqad atharakallahu ‘alaina.” “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau atas kami.” (QS. Yusuf: 91)

Dan jawaban Yusuf?