“La tatsriba ‘alaikum al-yaum.” “Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian.” (QS. Yusuf: 92)
Inilah puncak kepemimpinan berakhlak. Yusuf tidak membalas. Ia memaafkan. Dalam dunia yang gemar membongkar kesalahan masa lalu, sikap ini terasa revolusioner. Kekuatan sejati bukan pada kemampuan menghukum, tetapi pada kematangan memaafkan.
Di ruang publik kita, konflik sering dipelihara demi popularitas. Di media sosial, kesalahan kecil bisa menjadi penghakiman abadi.
Namun, Surah Yusuf mengajarkan rekonsiliasi sebagai energi pembangunan. Tanpa pemaafan, tidak ada keluarga yang utuh. Tanpa kelapangan hati, tidak ada bangsa yang dewasa.
Ketika keluarga akhirnya dipertemukan kembali, Yusuf berdoa:
“Tawaffani musliman wa alhiqni bish-shalihin.” “Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.” (QS. Yusuf: 101)
Menariknya, doa ini diucapkan saat ia berada di puncak kekuasaan. Ia telah menjadi pejabat tinggi Mesir. Ia telah memenangkan segalanya.
Namun, yang diminta bukan jabatan, bukan kekayaan, melainkan akhir yang baik. Ini adalah pelajaran tentang orientasi akhirat di tengah sukses dunia.
Pengajian pagi ini sampai pada ayat penutup:
“Laqad kana fi qashashihim ‘ibratun li ulil albab.” “Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)
Kata kuncinya adalah ibrah, pelajaran yang menembus hati. Bukan sekadar cerita, tetapi peta navigasi kehidupan. Orang yang berakal tidak hanya terharu, ia berubah.
Ramadan hari kesepuluh adalah momentum muhasabah. Sudahkah kita memaafkan orang yang pernah menyakiti? Sudahkah kita bersabar tanpa mengeluh di hadapan manusia? Sudahkah kita menahan diri untuk tidak membalas ketika punya kuasa?
Surah Yusuf 73-111 mengajarkan lima fondasi besar kehidupan:
-
Integritas dalam ujian.
-
Kesabaran aktif tanpa putus asa.
-
Pemaafan sebagai puncak kepemimpinan.
-
Keberhasilan yang tidak melupakan akhirat.
-
Keyakinan bahwa rencana Allah melampaui skenario manusia.
Di pagi yang tenang ini, setelah zikir-zikir lirih dan tasbih yang masih menggantung di udara masjid, kita menyadari satu hal: hidup bukan tentang siapa yang paling cepat membalas, tetapi siapa yang paling kuat menahan diri.
Kisah Yusuf adalah kisah tentang transformasi. Dari sumur ke istana. Dari difitnah ke dimuliakan. Dari dikhianati ke dipertemukan kembali. Semua melewati satu jembatan: sabar yang indah.
Ramadan mengajak kita menapaki jembatan itu. Sedikit demi sedikit, hari demi hari. Mungkin hari ini kita masih dalam fase sumur.
Mungkin kita masih merasa difitnah atau diremehkan. Tetapi, Surah Yusuf mengingatkan: Allah tidak pernah kehilangan kendali atas cerita kita.
Maka pagi ini, di pengajian ke-10, kita menutup mushaf dengan hati yang lebih ringan. Kita tidak tahu akhir kisah hidup kita.
Tetapi kita tahu satu hal pasti, jika sabar dijaga dan iman dipelihara, maka cahaya akan menemukan jalannya. Dan mungkin itulah inti Ramadan: belajar percaya, bahkan ketika belum melihat hasilnya.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















