Opini  

Menjemput Malam Seribu Bulan dengan Hati yang Ikhlas, Refleksi Pengajian Subuh Ramadhan dari Surah Al-Qadr dan Al-Ikhlas

Jemaah yang sedang duduk tenang di dalam masjid selepas menunaikan shalat subuh pada bulan suci Ramadhan.
Jemaah yang sedang duduk tenang di dalam masjid selepas menunaikan shalat subuh pada bulan suci Ramadhan. (Dok. Ist)

Allāhuṣ-ṣamad
“Allah tempat bergantung segala sesuatu.”

Manusia sering merasa kuat karena jabatan, harta, atau kekuasaan. Namun ayat ini menegaskan bahwa pada akhirnya semua manusia bergantung kepada Allah. Dialah tempat kembali setiap doa, setiap harapan, dan setiap ketakutan.

Surah ini kemudian menolak konsep ketuhanan yang menyerupai manusia:

Lam yalid wa lam yūlad
“Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

Dan ditutup dengan pernyataan yang sangat kuat:

Wa lam yakun lahu kufuwan aḥad
“Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Di sinilah letak hubungan mendalam antara Surah *Al-Qadr* dan *Al-Ikhlas. Surah Al-Qadr menjelaskan tentang **waktu yang sangat mulia, sedangkan Surah Al-Ikhlas menjelaskan tentang **Tuhan yang harus dimuliakan dalam ibadah tersebut*.

Dengan kata lain, nilai ibadah tidak hanya ditentukan oleh *waktu, tetapi juga oleh **ketulusan hati*.

Seseorang bisa saja menghidupkan malam Ramadhan dengan banyak ibadah. Tetapi jika hatinya masih dipenuhi *riya, **kesombongan, atau kepentingan dunia semata, maka keindahan **Lailatul Qadr* mungkin tidak benar-benar menyentuh jiwanya.

Sebaliknya, seseorang yang datang dengan hati yang sederhana namun penuh *keikhlasan* bisa merasakan kedamaian yang luar biasa pada malam tersebut.

Karena itu para ulama sering mengatakan bahwa *Lailatul Qadr bukan hanya soal mencari malamnya, tetapi juga menyiapkan hati untuk menerimanya.*

Hati yang bersih, niat yang tulus, dan keyakinan yang kuat kepada Allah adalah kunci untuk merasakan *keberkahan* malam itu.

Ramadhan setiap tahun sebenarnya adalah *undangan Ilahi*. Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbarui hidupnya. Kesalahan masa lalu dapat diampuni. Hati yang keras dapat dilembutkan kembali. Dan kehidupan yang terasa berat bisa diisi kembali dengan harapan.

Ketika kita menyambut sepuluh malam terakhir Ramadhan, sesungguhnya kita sedang mengetuk pintu *rahmat Allah*.

Baca Juga: Panduan Olahraga Saat Ramadan 1447 H: Kenali Metode Talk Test untuk Mengukur Intensitas Latihan Agar Tubuh Tetap Bugar

Maka marilah kita menyambut malam-malam itu dengan hati yang penuh harapan. Bukan hanya dengan ibadah yang banyak, tetapi juga dengan niat yang bersih dan *keikhlasan* yang dalam.

Semoga kita semua diberi *kesehatan, **kelapangan umur, dan kesempatan untuk merasakan **keberkahan malam kemuliaan* itu.

Selamat menyambut dan bersama memuliakan malam *seribu bulan* Ramadhan tahun ini.

Semoga kita semua *diberkahi* dan menjadi bagian dari orang-orang yang meraih *kedamaian hingga terbit fajar*.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.