Tak ada kekuatan bisa menghentikan kezaliman negeri Donald Trump. Simak narasinya sambil membayangkan seruput Koptagul, wak!
Baca Juga: Semakin Ramai Bicarakan Koptagul
Dunia ini kadang terasa seperti panggung teater raksasa. Tirainya bertuliskan “Tatanan Dunia Berbasis Aturan.” Musik pembuka megah.
Aktor-aktor berdasi bicara soal hak asasi manusia. Lalu tiba-tiba… boom. Pemimpin suatu negara lenyap, entah karena kudeta, drone, invasi, atau operasi militer dengan nama yang terdengar seperti judul film laga musim panas.
Mari kita buka album lama yang isinya bukan foto liburan, melainkan daftar “pergantian manajemen negara.”
Tahun 1953, Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddegh digulingkan lewat operasi rahasia CIA–MI6 yang dikenal sebagai Operation Ajax.
Dosanya? Menasionalisasi minyak. Minyak, cairan sakral yang bisa mengubah pidato demokrasi menjadi proposal intervensi.
Kudeta terjadi, pemerintahan berubah, dan dunia belajar, kedaulatan bisa sangat elastis kalau menyentuh kepentingan energi.
1961, Patrice Lumumba di Kongo. Ia ingin negaranya berdiri tegak tanpa jadi pion Perang Dingin. Hasil akhirnya tragis.
Dokumen-dokumen yang terungkap bertahun-tahun kemudian menunjukkan keterlibatan kekuatan besar dalam pusaran yang berujung pada kematiannya. Demokrasi Afrika baru lahir, tapi langsung diuji dengan realitas geopolitik brutal.
Baca Juga: Polres Sintang Dikepung Massa, Hukum Tiarap
1989, Manuel Noriega disergap lewat Operasi Just Cause. Ribuan tentara diterjunkan ke Panama. Noriega ditangkap, dibawa ke Amerika Serikat, diadili.
Seolah-olah presiden sebuah negara bisa diperlakukan seperti buronan lintas negara dalam serial kriminal.
2003, giliran Saddam Hussein. Invasi Irak dimulai dengan narasi senjata pemusnah massal yang sampai kini menjadi misteri kolektif.
Saddam ditangkap di sebuah persembunyian bawah tanah, diadili, dihukum mati.
Negara hancur, kawasan tak stabil, dan dunia bertanya-tanya apakah harga “misi pembebasan” itu terlalu mahal.
2011, Muammar Gaddafi tumbang dalam pusaran intervensi NATO. Dari pidato penuh teori konspirasi hingga akhir tragis di jalanan Sirte.
Libya berubah menjadi puzzle yang belum selesai dirakit sampai hari ini.
2020, serangan drone menewaskan Qasem Soleimani di Baghdad. Satu rudal, satu target, satu pesan geopolitik yang menggema ke seluruh Timur Tengah.
Teknologi modern membuat pembunuhan tokoh militer tingkat tinggi terasa seperti menekan tombol dalam ruang kontrol ber-AC.
Masuk 2026, kabar dramatis datang dari Amerika Latin. Nicolás Maduro diculik dalam operasi militer spektakuler dan dibawa ke Amerika Serikat menghadapi dakwaan narkoterorisme.
Dari istana presiden ke ruang sidang federal. Perjalanan geopolitik yang lebih cepat dari pengiriman paket ekspres.
Masih di tahun yang sama, dunia dikejutkan oleh laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara presisi tinggi.
Dunia terdiam beberapa detik. Lalu kembali ramai oleh pernyataan resmi, kecaman, dan analisis panjang di televisi.
Jika semua ini hanya satu atau dua kasus, mungkin kita menyebutnya kebetulan sejarah. Namun ketika daftar nama makin panjang dari dekade ke dekade, orang awam mulai mengernyit.
Akademisi menghela napas. Teori konspirasi tumbuh subur seperti rumput musim hujan.
Ironinya, di tengah riuh rendah operasi militer dan pergantian rezim, Amerika Serikat juga melahirkan gagasan-gagasan lembut tentang perdamaian.
Salah satunya adalah konsep Board of Peace (BoP), sebuah inisiatif yang dikampanyekan sebagai wadah strategis untuk menjaga stabilitas global dan mencegah konflik besar melalui koordinasi kekuatan-kekuatan utama dunia.
Kedengarannya indah. Damai. Elegan. Seperti forum bijak tempat para petinggi duduk melingkar, menyeruput kopi, dan membicarakan masa depan umat manusia dengan nada tenang.
Namun di sisi lain panggung, sejarah mencatat operasi rahasia, intervensi militer, dan serangan presisi yang mengubah peta politik negara lain dalam hitungan jam.
Di sinilah dunia terasa pahit. Di satu tangan, jargon perdamaian global dan Board of Peace.
Di tangan lain, daftar panjang pemimpin yang jatuh, ditangkap, atau tewas dalam pusaran kepentingan geopolitik.
Apakah Board of Peace adalah evolusi menuju tata dunia yang lebih stabil? Atau sekadar rebranding dari permainan lama dengan kemasan baru yang lebih diplomatis? Pertanyaan itu menggantung di udara.
Lalu, kita? Pembaca yang hanya punya layar dan secangkir kopi, akhirnya terdiam.
Dunia terus berputar. Operasi diberi nama megah. Forum perdamaian dibentuk. Sementara sejarah mencatat dengan tinta tebal, kekuasaan, ketika tak terbendung, sering kali menulis aturannya sendiri.
Penulis: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)
















