Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Memiliki gelar sarjana di belakang nama dulunya dianggap sebagai tiket emas menuju kesuksesan karier.
Namun, realitas hari ini menunjukkan fakta yang berbeda.
Ribuan wisudawan lahir setiap tahunnya, tetapi tidak sedikit yang harus menelan pil pahit menjadi pengangguran terdidik.
Badan Pusat Statistik (BPS) kerap mencatat angka pengangguran dari lulusan universitas yang justru lebih tinggi dibandingkan lulusan pendidikan vokasi atau dasar.
Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: Ada apa dengan sarjana kita?
Berikut adalah 5 fakta dan alasan mendasar mengapa sarjana di Indonesia masih kesulitan menembus dunia kerja:
1. Kesenjangan Keterampilan (Skill Gap)
Masalah klasik yang belum tuntas di Indonesia adalah tidak “nyambungnya” kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri (Link and Match).
Banyak mahasiswa yang menghabiskan 4 tahun hanya berkutat pada teori di dalam kelas, namun gagap saat dihadapkan pada praktik kerja nyata.
Dunia industri bergerak sangat cepat, terutama di era digital.
Sementara itu, kurikulum kampus seringkali lambat beradaptasi. Akibatnya, perusahaan merasa lulusan baru (fresh graduate) perlu dilatih ulang dari nol, yang dianggap memakan biaya dan waktu.
2. Terjebak pada IPK, Lupa Soft Skill
Banyak mahasiswa mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) setinggi langit alias Cum Laude, namun melupakan pengembangan karakter. Padahal, di mata HRD (Human Resources), IPK hanyalah syarat administrasi untuk lolos seleksi berkas.
Saat wawancara dan tes kerja, yang dinilai adalah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), serta ketahanan mental (resiliensi).
Banyak sarjana pintar secara akademis, namun sulit bekerja dalam tim atau mudah menyerah saat di bawah tekanan.
3. Minim Pengalaman Magang dan Organisasi
Paradoks “butuh pengalaman untuk kerja, tapi butuh kerja untuk dapat pengalaman” sering dikeluhkan sarjana baru.
Namun, sebenarnya hal ini bisa diantisipasi sejak masa kuliah.
Sarjana yang lulus tanpa pernah mengikuti organisasi, kepanitiaan, atau magang, akan kalah saing.
Perusahaan cenderung memilih kandidat yang portofolionya “berisi”, meskipun IPK-nya standar, dibandingkan kandidat dengan IPK 4.00 tapi lembar riwayat hidupnya (CV) kosong melompong.
















