Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Tren slow living atau gaya hidup melambat kini menjadi primadona baru, terutama bagi generasi muda yang lelah dengan budaya gila kerja (hustle culture).
Konsep menikmati hidup dengan penuh kesadaran (mindfulness), menolak terburu-buru, dan menjaga keseimbangan mental terdengar sangat menggoda.
Namun, pertanyaan besarnya adalah: Apakah konsep ini relevan bagi seorang jurnalis?
Dunia jurnalisme dikenal dengan ritme kerja yang fast-paced, tekanan deadline yang mencekik, dan tuntutan untuk selalu terhubung 24 jam.
Baca Juga: Lelah dengan Hustle Culture, Ini 5 Alasan Logis Gen Z Beralih ke Slow Living
Bagi Anda yang bergelut di dunia media namun mendambakan ketenangan ala slow living, berikut adalah realita yang perlu dipertimbangkan.
1. Benturan Budaya: Breaking News vs Menikmati Momen
Secara fundamental, jurnalisme berita harian (hard news) adalah antitesis dari slow living.
Jurnalis dituntut untuk menjadi yang tercepat. Ketika ada peristiwa besar (breaking news), tidak ada istilah “menikmati kopi sore dengan tenang”.
Adrenalin untuk mengejar eksklusivitas sering kali memaksa jurnalis mengorbankan waktu istirahat.
Jika Anda bekerja di media online yang mengejar traffic dan kecepatan, menerapkan slow living sepenuhnya hampir mustahil tanpa mengorbankan performa kerja.
2. Sindrom Always On dan Notifikasi
Pilar utama slow living adalah kemampuan untuk disconnect atau memutus koneksi dari dunia digital sejenak. Sayangnya, jurnalis sering kali dihantui oleh FOMO (Fear of Missing Out) terhadap informasi.
Mematikan ponsel bagi seorang wartawan bisa berarti kehilangan narasumber penting atau tertinggal isu yang sedang viral.
Kecemasan ini membuat otak terus bekerja (overthinking) bahkan saat sedang libur, yang jelas bertentangan dengan prinsip ketenangan jiwa dalam slow living.
3. Peluang di Jalur Slow Journalism
Meski terdengar pesimis, bukan berarti pintu tertutup rapat.
Anda tetap bisa menjadi jurnalis dan hidup tenang, asalkan memilih jalur yang tepat. Ada genre yang disebut Slow Journalism.
Alih-alih mengejar berita cepat yang umurnya pendek, slow journalism berfokus pada liputan mendalam (in-depth reporting), investigasi, atau tulisan fitur (feature).
Jurnalis di jalur ini memiliki waktu riset yang lebih panjang (mingguan atau bulanan) dan tidak dikejar setoran berita harian.
Majalah gaya hidup, dokumenter, atau rubrik opini adalah tempat yang ramah untuk gaya hidup ini.
















