Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Selama satu dekade terakhir, dunia seolah mendewakan budaya gila kerja atau yang populer disebut hustle culture.
Mantra “tidur itu untuk orang lemah” atau “kerja keras bagai kuda” sempat menjadi standar kesuksesan.
Namun, narasi ini mulai berubah total di tangan Generasi Z.
Alih-alih berlomba menjadi yang paling sibuk, Gen Z justru mempopulerkan tren slow living.
Baca Juga: Tenang di Tengah Bising: 6 Tanda Kamu Sukses Menerapkan Slow Living di Kota Besar
Gaya hidup ini bukan berarti malas atau tidak punya ambisi. Sebaliknya, slow living adalah sebuah pemberontakan halus terhadap ritme hidup yang serba cepat dan menuntut.
Mengapa generasi muda ini ramai-ramai memilih untuk “melambat”? Berikut adalah 5 alasan logis di baliknya.
1. Kelelahan Akibat Hustle Culture
Gen Z tumbuh dengan melihat kakak-kakak milenial mereka yang terjebak dalam siklus burnout.
Mereka menyaksikan bagaimana budaya kerja berlebihan sering kali tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan atau stabilitas finansial.
Belajar dari situ, Gen Z menolak menganggap kesibukan sebagai lencana kehormatan.
Bagi mereka, produktivitas tidak harus mengorbankan kewarasan. Slow living menjadi antitesis untuk menikmati proses, bukan hanya mengejar hasil akhir dengan napas terengah-engah.
2. Prioritas Kesehatan Mental (Mental Health)
Bagi Gen Z, kesehatan mental adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Hidup dengan tekanan konstan untuk selalu “terlihat sukses” di media sosial menciptakan kecemasan (anxiety) yang tinggi.
Penerapan slow living seperti membatasi notifikasi ponsel, menikmati kopi tanpa terburu-buru, atau sekadar berjalan kaki sore dianggap sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) untuk menjaga pikiran tetap waras di tengah dunia yang bising.
















