AI Kini Menipu Manusia
Selain faktor SDM, Rhenald juga memperingatkan tentang pergeseran persepsi kebenaran akibat AI.
Di tahun 2026, AI bukan lagi sekadar alat bantu hitung, melainkan entitas yang mampu memanipulasi emosi publik.
“Dulu, AI bisa ditipu manusia. Tapi sekarang, AI-lah yang menipu manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan adanya jurang persepsi yang lebar antar-generasi.
Bagi Gen Z, apa yang tersaji di internet adalah kebenaran mutlak.
Sebaliknya, generasi tua hanya mempercayai apa yang dialami secara fisik dan menganggap kebenaran media sosial hanya 20 persen.
Celah inilah yang dimanfaatkan oleh kejahatan ekonomi berbasis teknologi (phishing) dan disinformasi yang kian sulit dibedakan dari kenyataan.
Peluang di Industri Sekunder
Di tengah disrupsi ini, Rhenald mencatat anomali pertumbuhan industri. Sektor padat karya tertekan, namun sektor yang dulunya dianggap sekunder justru meroket.
“Industri yang tumbuh sekarang justru yang dulu dianggap tidak utama. Contohnya makanan hewan peliharaan. Orang Indonesia itu sayang kucing,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR), Neni Nur Hayati, yang turut hadir menambahkan bahwa intuisi bisnis saja tidak lagi cukup.
“Big data menjadi instrumen krusial untuk membaca peta bisnis dan politik secara akurat. Kebijakan harus berbasis data untuk menjawab perilaku publik yang bergerak cepat dan emosional,” pungkas Neni.
Baca Juga: Kunjungi Yonif TP 827 Kutai Barat, Menhan Sjafrie Tekankan Meritokrasi dan Penguasaan Teknologi
(Mira)
















