Rhenald Kasali: Bisnis 2026 Dihantui ‘AI Penipu’ dan Gen Z yang Menolak Jadi Bos

"Rhenald Kasali ungkap tantangan bisnis 2026: Fenomena Gen Z tolak jadi manajer (unbossing) hingga ancaman AI yang kian manipulatif menipu manusia."
Rhenald Kasali ungkap tantangan bisnis 2026: Fenomena Gen Z tolak jadi manajer (unbossing) hingga ancaman AI yang kian manipulatif menipu manusia. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Lanskap bisnis Indonesia di tahun 2026 menghadapi guncangan ganda yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pelaku usaha kini tidak hanya bertarung melawan kecanggihan Artificial Intelligence (AI) yang makin manipulatif, tetapi juga menghadapi krisis regenerasi kepemimpinan akibat fenomena conscious unbossing di kalangan Generasi Z.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, dalam acara Breakfast Talk: Business Outlook 2026 di Rumah Perubahan, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Fenomena Conscious Unbossing

Baca Juga: 5 Film Tentang Penguin Terbaik Sepanjang Masa: Dari yang Kocak hingga Mengharukan

Rhenald menyoroti perubahan radikal dalam mentalitas tenaga kerja muda. Gen Z, yang kini mendominasi angkatan kerja, menunjukkan resistensi terhadap struktur hierarki formal.

Mereka enggan memikul beban mental menjadi seorang pemimpin atau manajer.

“Anak muda hari ini melihat aset bukan kantor atau jabatan, tapi uang dan fleksibilitas. Mereka tidak mau kerja formal, tidak mau punya bos,” tegas Rhenald.

Mengutip data riset global Robert Walters, Rhenald memaparkan fakta mengejutkan: 52 persen Gen Z tidak memiliki keinginan untuk naik ke posisi manajemen menengah.

Bahkan, 69 persen dari mereka menilai peran middle management hanya memberikan stres tinggi tanpa imbalan yang sepadan. Akibatnya, 72 persen lebih memilih jalur karier sebagai individual contributor ketimbang harus mengelola tim.

Kondisi ini memaksa perusahaan melakukan otomatisasi dan robotisasi bukan lagi sebagai pilihan efisiensi, melainkan keharusan karena ketiadaan SDM yang mau mengisi pos manajerial.

AI Kini Menipu Manusia

Selain faktor SDM, Rhenald juga memperingatkan tentang pergeseran persepsi kebenaran akibat AI.

Di tahun 2026, AI bukan lagi sekadar alat bantu hitung, melainkan entitas yang mampu memanipulasi emosi publik.

“Dulu, AI bisa ditipu manusia. Tapi sekarang, AI-lah yang menipu manusia,” ujarnya.

Ia menjelaskan adanya jurang persepsi yang lebar antar-generasi.

Bagi Gen Z, apa yang tersaji di internet adalah kebenaran mutlak.

Sebaliknya, generasi tua hanya mempercayai apa yang dialami secara fisik dan menganggap kebenaran media sosial hanya 20 persen.

Celah inilah yang dimanfaatkan oleh kejahatan ekonomi berbasis teknologi (phishing) dan disinformasi yang kian sulit dibedakan dari kenyataan.

Peluang di Industri Sekunder

Di tengah disrupsi ini, Rhenald mencatat anomali pertumbuhan industri. Sektor padat karya tertekan, namun sektor yang dulunya dianggap sekunder justru meroket.

“Industri yang tumbuh sekarang justru yang dulu dianggap tidak utama. Contohnya makanan hewan peliharaan. Orang Indonesia itu sayang kucing,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR), Neni Nur Hayati, yang turut hadir menambahkan bahwa intuisi bisnis saja tidak lagi cukup.

“Big data menjadi instrumen krusial untuk membaca peta bisnis dan politik secara akurat. Kebijakan harus berbasis data untuk menjawab perilaku publik yang bergerak cepat dan emosional,” pungkas Neni.

Baca Juga: Kunjungi Yonif TP 827 Kutai Barat, Menhan Sjafrie Tekankan Meritokrasi dan Penguasaan Teknologi

(Mira)