Lumpuh Total Tertutup Lumpur, SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang Desak Pembangunan Shelter Inklusif

Sejumlah relawan dan guru membersihkan lumpur dan puing sisa banjir di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Aceh Tamiang, Selasa (13/1).
Sejumlah relawan dan guru membersihkan lumpur dan puing sisa banjir di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Aceh Tamiang, Selasa (13/1). (Dok. BNPB)

Faktakalbar.id, ACEH TAMIANG – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 meninggalkan dampak kerusakan serius pada infrastruktur pendidikan.

Hingga Selasa (13/1), kegiatan belajar mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Aceh Tamiang belum dapat berjalan optimal.

Baca Juga: Tak Lagi Beratap Langit, BNPB dan Pemda Pasok Tenda untuk Sekolah Terdampak Banjir di Aceh

Peristiwa ini menjadi pengingat keras mengenai urgensi penerapan kebijakan PRB inklusif (Pengurangan Risiko Bencana) yang berpihak pada kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas.

Kerusakan Infrastruktur Capai 80 Persen

Berdasarkan data lapangan, sekitar 80 persen dari total 77 ruangan dan halaman sekolah masih tertutup lumpur dan puing material sisa banjir.

Ketinggian air yang sempat mencapai empat meter telah merusak hampir seluruh sarana dan prasarana sekolah. Padahal, fasilitas tersebut dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan aksesibilitas peserta didik berkebutuhan khusus.

Kerusakan masif ini menegaskan bahwa satuan pendidikan khusus merupakan objek vital berisiko tinggi.

Oleh karena itu, diperlukan perlindungan berlapis mulai dari mitigasi struktural hingga pemulihan pascabencana yang menjamin keberlanjutan layanan pendidikan.

Baca Juga: Hari Pertama Sekolah Pascabanjir Aceh Tamiang: Siswa SDN 1 Karang Baru Belajar Beralaskan Terpal

Kolaborasi Pemulihan Lintas Sektor

Proses pemulihan SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang kini dilakukan melalui pendekatan kolaboratif. Pemerintah daerah, TNI, organisasi nonpemerintah, dan masyarakat bahu-membahu membersihkan area sekolah.

Fokus awal pembersihan dilakukan di musala sekolah yang berfungsi strategis sebagai titik kumpul darurat.

Untuk mengatasi ketebalan lumpur yang mencapai lebih dari 30 sentimeter, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mengerahkan alat berat ekskavator dengan dukungan Dana Siap Pakai (DSP) dari BNPB.

Selain pembersihan fisik, dukungan fasilitas dasar juga diprioritaskan. TNI telah membangun sumur bor untuk penyediaan air bersih, sementara yayasan sosial seperti Buddha Tzu Chi dan Baznas menyalurkan logistik serta konsumsi bagi relawan.