Memutus Lingkaran Setan: Mengapa Trauma Pelecehan Seksual yang Tak Pulih Berisiko Melahirkan Pelaku Baru?

"Benarkah korban pelecehan bisa jadi pelaku? Pahami konsep 'Cycle of Abuse' dan pentingnya pemulihan mental untuk memutus rantai trauma kekerasan seksual."
Benarkah korban pelecehan bisa jadi pelaku? Pahami konsep 'Cycle of Abuse' dan pentingnya pemulihan mental untuk memutus rantai trauma kekerasan seksual. (Dok. Ist)

Ini disebut distorsi kognitif.

3. Ketidakmampuan Meregulasi Emosi dan Impuls

Trauma yang mengendap merusak kemampuan otak untuk mengelola emosi.

Penyintas yang tidak dipulihkan seringkali mengalami emotional dysregulation.

Mereka mungkin menggunakan aktivitas seksual (termasuk yang menyimpang atau agresif) sebagai mekanisme koping (coping mechanism) untuk meredakan kecemasan, rasa sakit, atau amarah yang terpendam.

Perilaku ini bukan didasari oleh nafsu semata, melainkan pelampiasan dari kekacauan emosional di dalam jiwa.

4. Hilangnya Rasa Empati Akibat Numbness

Salah satu dampak trauma berat adalah emotional numbness atau mati rasa. Seseorang mematikan perasaannya agar tidak merasakan sakit.

Efek samping yang berbahaya dari mati rasa adalah hilangnya empati terhadap orang lain.

Ketika seseorang menjadi pelaku, ia mungkin tidak bisa membayangkan penderitaan korbannya karena ia sendiri telah terputus dari perasaan sakit miliknya.

Kuncinya Adalah Pemulihan (Healing)

Menjadi pelaku bukanlah takdir bagi seorang korban.

Itu adalah konsekuensi dari trauma yang diabaikan.

Oleh karena itu, pendampingan psikologis bagi korban pelecehan seksual adalah harga mati.

Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Trauma-Informed Care sangat penting untuk:

  • Membangun kembali konsep diri yang sehat.
  • Memahami bahwa apa yang terjadi bukan salah mereka.
  • Meluruskan pemahaman tentang batasan seksual yang sehat (consent).
  • Menyalurkan emosi negatif dengan cara yang konstruktif.

Dengan menyembuhkan korban hari ini, kita sejatinya sedang mencegah lahirnya pelaku di masa depan.

Mari dukung pemulihan, bukan diskriminasi.

Baca Juga: Kekerasan dan Pelecehan Seksual Eks Pimpinan Ormawa dan OKP Disinyalir Terjadi di Berbagai Momentum Organisasi dan Berbagai Tempat di Pontianak

(*Mira)