Memutus Lingkaran Setan: Mengapa Trauma Pelecehan Seksual yang Tak Pulih Berisiko Melahirkan Pelaku Baru?

"Benarkah korban pelecehan bisa jadi pelaku? Pahami konsep 'Cycle of Abuse' dan pentingnya pemulihan mental untuk memutus rantai trauma kekerasan seksual."
Benarkah korban pelecehan bisa jadi pelaku? Pahami konsep 'Cycle of Abuse' dan pentingnya pemulihan mental untuk memutus rantai trauma kekerasan seksual. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Pelecehan seksual adalah luka mendalam yang menghancurkan batasan diri seseorang.

Namun, ada satu fakta psikologis yang pahit dan sering menjadi tabu untuk dibicarakan: fenomena Cycle of Abuse atau siklus kekerasan.

Ada kekhawatiran bahwa korban (penyintas) kekerasan seksual di masa lalu dapat berubah menjadi pelaku di masa depan.

Penting untuk digarisbawahi: Tidak semua korban akan menjadi pelaku.

Baca Juga: Sepanjang 2025, Dinsos Mempawah Tangani 69 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan

Faktanya, mayoritas penyintas justru tumbuh menjadi pribadi yang sangat protektif dan anti-kekerasan.

Namun, risiko itu nyata jika dan hanya jika luka batin tersebut tidak pernah disembuhkan secara tuntas.

Mengapa transformasi menyakitkan ini bisa terjadi? Artikel ini akan membahas mekanisme psikologis di baliknya tanpa menghakimi, demi pentingnya intervensi kesehatan mental.

1. Mekanisme Pertahanan: Identification with the Aggressor

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut Identification with the Aggressor.

Saat seseorang menjadi korban, ia merasa tidak berdaya, lemah, dan takut.

Tanpa pemulihan, alam bawah sadar seseorang mungkin berusaha “mengatasi” rasa takut itu dengan cara beralih peran.

Agar tidak lagi merasa sebagai pihak yang lemah (korban), ia menempatkan diri sebagai pihak yang kuat (pelaku).

Dengan menyakiti orang lain, secara tidak sadar ia merasa memiliki kembali kontrol yang dulu direnggut darinya.

2. Normalisasi Perilaku Menyimpang

Jika pelecehan terjadi di usia dini dan dilakukan oleh orang terdekat (keluarga/pengasuh), batasan moral anak menjadi kabur.

Anak belajar tentang relasi kuasa dan kasih sayang dengan cara yang salah.

Tanpa terapi kognitif untuk meluruskan pola pikir ini, penyintas mungkin tumbuh dengan keyakinan menyimpang bahwa “memaksakan kehendak seksual” adalah hal yang wajar atau bahkan bentuk dari “perhatian”.