“Semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia untuk melakukan investasi besar di Venezuela, yang akan membangun kembali infrastruktur minyak mereka yang dihancurkan oleh rezim Maduro,” ujar Rogers, Selasa (6/1/2026).
Meskipun Rogers tidak merinci nama perusahaan yang hadir, laporan menyebutkan bahwa raksasa seperti Chevron, Conoco, dan Exxon menjadi kandidat utama.
Menteri Energi AS, Chris Wright, juga dijadwalkan bertemu dengan eksekutif Chevron dan ConocoPhillips dalam konferensi energi di Miami pekan ini.
Sorotan utama tertuju pada Chevron. Perusahaan ini merupakan satu-satunya pemain besar AS yang masih bertahan beroperasi di Venezuela selama satu dekade terakhir, meski di tengah sanksi ekonomi yang ketat.
Chevron tercatat telah beroperasi di sana selama 100 tahun dan mengekspor sekitar seperempat produksi minyaknya ke AS.
Penguasaan medan oleh Chevron dinilai menjadi tantangan bagi perusahaan lain yang ingin masuk. Peneliti Senior di Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim, Clayton Seigle, mengingatkan bahwa menggarap minyak Venezuela bukanlah perkara mudah.
Baca Juga: AS Tangkap Maduro, DK PBB Gelar Rapat Darurat
“Anda tidak bisa begitu saja masuk ke Venezuela dan memompa minyak. Ini adalah proses yang sangat sulit dan kompleks yang selama bertahun-tahun telah dikuasai Chevron, sangat sedikit perusahaan yang memiliki teknologi tersebut,” jelas Seigle.
Langkah agresif Trump ini mempertegas ambisi Washington untuk mengamankan pasokan energi di kawasan Belahan Bumi Barat pasca tumbangnya rezim Maduro.
(*Sari)
















