Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Fenomena cari kerja susah kian nyata dirasakan oleh masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sulitnya menembus pasar tenaga kerja formal memaksa banyak lulusan perguruan tinggi untuk memutar otak dan banting setir mengganti profesi mereka demi bertahan hidup.
Kondisi ini diperparah dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mulai menggeser peran manusia.
McCanna, seorang lulusan jurnalisme, menjadi salah satu contoh nyata pencari kerja yang harus beradaptasi.
Ia memutuskan beralih profesi menjadi pelatih model AI di platform Outlier karena sulitnya mendapatkan pekerjaan di bidang asalnya.
Meskipun tidak memiliki latar belakang teknologi, McCanna mengaku pekerjaan barunya memberikan pendapatan yang lumayan, yakni sekitar US$ 35 (sekitar Rp 569 ribu) per jam.
Ia menceritakan betapa ketatnya persaingan mencari kerja saat ini, di mana banyak rekannya juga mengalami nasib serupa.
“Banyak dari kami yang masih mencari pekerjaan. Tiga kali saya memberi tahu seseorang tentang pekerjaan saya, dan mereka berkata, tolong kirimkan ke saya,” ungkap McCanna.
Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan hanya masalah pribadi, melainkan tantangan umum bagi generasinya.
















