Faktakalbar.id, PONTIANAK – Penyelundupan pakaian bekas impor atau ballpress diduga kembali menemukan celah baru.
Di tengah gencarnya penindakan aparat terhadap pengiriman dalam bentuk bal utuh, para pelaku diduga mengubah strategi dengan membongkar muatan terlebih dahulu di wilayah Kalimantan Barat.
Pakaian bekas tersebut kemudian dikemas ulang agar tampak seperti barang “preloved” legal.
Modus ini kian marak seiring meningkatnya permintaan pasar menjelang hari-hari besar keagamaan.
Baca Juga: Anggaran Ratusan Miliar Hanya untuk Bersihkan Rumput, PUPR Kalbar Bungkam Soal Proyek Normalisasi
Informasi yang diperoleh Fakta Kalbar menyebutkan, pakaian bekas impor dari Malaysia diduga masuk melalui perbatasan Kuching–Jagoi Babang, kemudian diangkut ke Pontianak menuju Kabupaten Ketapang sebagai titik transit.
Dari lokasi tersebut, barang dikirim ke Semarang melalui jalur laut sebelum diedarkan ke Bandung dan Jakarta.
Modus baru ini dilakukan dengan cara melipat pakaian satu per satu dan mengemasnya menyerupai pakaian bekas pakai biasa atau preloved, sehingga tidak lagi terlihat mencolok sebagai kemasan ballpress pada umumnya.
Seorang narasumber di Bandung, Udin, mengungkapkan bahwa pola tersebut mulai marak dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, pasokan pakaian bekas impor di Bandung mulai meningkat kembali meski sebelumnya sempat langka akibat banyaknya penangkapan oleh aparat.
“Sekarang bukan bal lagi yang datang. Sudah berbentuk karungan atau dus seperti baju bekas biasa. Katanya dibongkar dulu di sebuah gudang di perbatasan Jagoi Babang atau Kota Pontianak, baru dikirim ke Bandung,” kata Udin kepada Fakta Kalbar, Rabu (17/12/2025).
Udin menyebut, pada minggu lalu sejumlah besar pakaian bekas impor dengan kemasan baru tersebut sudah beredar di Bandung dan sekitarnya.
Barang-barang itu disebut berasal dari jalur Kalimantan Barat dan masuk bersamaan dengan meningkatnya permintaan pasar menjelang Natal, Tahun Baru, dan Lebaran Idul Fitri.
“Permintaan lagi tinggi di Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar. Stok sempat kosong karena banyak penangkapan ballpress. Sekarang barang masuk lagi, tapi sudah pakai cara baru,” ujarnya.
Menurut Udin, kelancaran distribusi dengan pola baru ini memunculkan dugaan adanya pembiaran atau perlindungan dari oknum tertentu.
















