“Misalnya di setiap tanggal 1, (gaji) dibayarkan di sana semua, jadi kelihatan tuh bulatannya (semua penghasilan per bulan). Nah, itu yang akhirnya disebut meningkatkan kesejahteraan karena kelihatan. Kalau yang sekarang kan enggak kelihatan, seakan PNS itu gajinya kecil,” ujar Lina, Selasa (16/12/2025).
Kontrol Beban Kerja Lebih Adil
Selain soal nominal, sistem ini juga berfungsi sebagai alat kontrol manajerial. Pimpinan instansi akan lebih mudah memantau kinerja bawahannya.
Jika seorang ASN menerima gaji yang sangat tinggi dalam sistem single salary, pimpinan bisa langsung mengevaluasi beban kerjanya. Apakah memang sepadan atau justru berlebihan (overload).
“Kalau dengan single salary system ini, pimpinan bisa memantau,’oh ini sudah terlalu banyak penghasilannya, pendapatannya dibandingkan yang lain.’ Jangan-jangan kerjaannya terlalu banyak,” tutur Lina.
Dengan mekanisme ini, diharapkan tidak ada lagi ketimpangan beban kerja. ASN yang rajin akan mendapatkan hak yang sesuai, sementara beban kerja bisa didistribusikan lebih merata agar tidak menumpuk pada satu orang saja.
Baca Juga: Kebijakan Single Salary untuk ASN Dirancang Mulai Berlaku Mulai 2026
Salah satu keuntungan jangka panjang dari sistem ini adalah jaminan hari tua. Karena komponen gaji pokok membesar, maka iuran pensiun dan asuransi kesehatan yang dibayarkan juga akan meningkat.
Hal ini diprediksi akan menjaga daya beli ASN saat memasuki masa pensiun nanti.
















