Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dulu, tolak ukur kesuksesan finansial sering kali ditandai dengan kepemilikan sertifikat rumah.
Namun, bagi Generasi Z (kelahiran 1997-2012), impian “Rumahku Istanaku” mulai bergeser maknanya.
Banyak survei properti menunjukkan tren bahwa anak muda masa kini cenderung menunda, bahkan enggan, mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) jangka panjang.
Apakah ini semata-mata karena harga properti yang tidak masuk akal? Atau ada faktor gaya hidup yang berubah?
Ternyata, keputusan ini bukan sekadar masalah dompet, melainkan strategi hidup.
Berikut adalah 4 alasan utama mengapa Gen Z lebih nyaman menyewa apartemen dibandingkan membeli rumah tapak:
1. Mengutamakan Fleksibilitas dan Mobilitas
Gen Z dikenal sebagai generasi yang dinamis.
Budaya kerja remote (WFA) dan tren berpindah pekerjaan (job hopping) untuk menaikkan karier membuat mereka enggan terikat di satu lokasi selama 15-20 tahun akibat cicilan rumah.
Menyewa apartemen memberikan kebebasan untuk pindah kapan saja sesuai lokasi kantor baru atau keinginan suasana baru.
Bagi mereka, terikat pada satu aset fisik yang tidak bisa bergerak adalah sebuah “beban” yang membatasi gerak eksplorasi hidup mereka.
2. Lokasi Strategis vs Komuting “Tua di Jalan”
Rumah tapak dengan harga terjangkau bagi pemula biasanya terletak di kawasan penyangga (pinggiran kota) yang jauh dari pusat bisnis.
Konsekuensinya adalah waktu tempuh perjalanan yang lama dan melelahkan.
Gen Z sangat menghargai work-life balance.
Mereka lebih memilih menyewa apartemen tipe studio yang kecil namun berada di pusat kota (dekat kantor atau akses transportasi umum/TOD), daripada membeli rumah luas tapi harus menghabiskan waktu 3-4 jam sehari hanya untuk pulang-pergi di jalanan macet.
3. Fasilitas Lengkap Tanpa Repot Perawatan
Generasi ini menyukai kepraktisan.
Tinggal di rumah tapak berarti harus siap dengan urusan genteng bocor, memotong rumput, hingga keamanan lingkungan.
Di apartemen, semua itu sudah diurus oleh pengelola (IPL).
Selain itu, dengan harga sewa yang masuk akal, mereka mendapatkan akses “gratis” ke fasilitas gaya hidup seperti kolam renang, gym, ruang kerja bersama (coworking space), hingga keamanan 24 jam.
Gaya hidup serba ada inilah yang sulit didapatkan jika membeli rumah subsidi atau rumah second di pinggiran.
4. Arus Kas (Cashflow) untuk Pengalaman dan Investasi Lain
Membayar DP rumah dan cicilan bulanan yang tinggi sering kali menghabiskan lebih dari 40% penghasilan bulanan.
Bagi Gen Z, ini berarti mengorbankan dana untuk traveling, konser, atau hobi.
Dengan menyewa, biaya bulanan relatif lebih rendah dan terukur.
Selisih dana tersebut bisa mereka alokasikan untuk portofolio investasi lain yang lebih likuid seperti saham, kripto, atau reksa dana, serta untuk membeli “pengalaman” hidup yang bagi mereka jauh lebih berharga daripada sekadar tembok beton.
Memilih menyewa apartemen bukan berarti Gen Z tidak memikirkan masa depan.
















