Bukan Egois, Ini 5 Alasan Logis dan Sehat Mengapa Gen Z Memilih Jalan Childfree

"Keputusan childfree kian populer di kalangan Gen Z. Bukan karena membenci anak, melainkan bentuk kesadaran diri. Simak 5 alasan logis di balik pilihan hidup ini."
Keputusan childfree kian populer di kalangan Gen Z. Bukan karena membenci anak, melainkan bentuk kesadaran diri. Simak 5 alasan logis di balik pilihan hidup ini. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah childfree keputusan sadar untuk tidak memiliki anak kandung maupun anak angkat semakin sering terdengar, terutama di kalangan Generasi Z (Gen Z).

Sayangnya, stigma negatif seperti “egois” atau “melawan kodrat” masih sering dilekatkan pada mereka yang mengambil jalan ini.

Padahal, bagi banyak Gen Z, keputusan ini tidak diambil dalam semalam.

Ini adalah hasil dari perenungan panjang yang matang, melibatkan pertimbangan mental, finansial, hingga sosial.

Baca Juga: Masih Percaya “Bau Tangan”? Ini 5 Mitos Parenting Indonesia yang Harus Ditinggalkan

Memilih untuk tidak menjadi orang tua sering kali justru merupakan bentuk tanggung jawab tertinggi terhadap diri sendiri dan calon kehidupan lain.

Berikut adalah 5 alasan sehat dan rasional mengapa banyak Gen Z memilih untuk hidup childfree.

1. Memutus Rantai Trauma Pengasuhan (Breaking Generational Trauma)

Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat sadar akan kesehatan mental (mental health aware).

Banyak dari mereka yang tumbuh dengan luka pengasuhan masa lalu atau menyadari bahwa mereka belum selesai berdamai dengan trauma batin sendiri (inner child).

Memilih childfree bagi mereka adalah cara untuk memutus siklus trauma tersebut.

Mereka menyadari bahwa menjadi orang tua membutuhkan kestabilan emosi yang luar biasa. Daripada memaksakan diri punya anak tapi melukai mental sang anak kelak, mereka memilih untuk berhenti di diri mereka sendiri. Ini adalah keputusan yang sangat bertanggung jawab.

2. Realitas Ekonomi dan Ketidakpastian Finansial

Tidak bisa dipungkiri, biaya hidup saat ini jauh berbeda dibandingkan era orang tua kita.

Harga hunian yang melambung tinggi, inflasi, dan ketidakpastian lapangan kerja membuat Gen Z berpikir ultra-realistis.

Bagi sebagian orang, childfree adalah strategi finansial agar mereka bisa hidup layak tanpa tercekik utang.

Mereka paham bahwa membesarkan anak membutuhkan biaya fantastis mulai dari gizi, kesehatan, hingga pendidikan.

Mereka tidak ingin membawa anak ke dunia hanya untuk hidup dalam kesulitan ekonomi atau menjadi beban sandwich generation berikutnya.

3. Fokus pada Pengembangan Diri dan Karier

Definisi “kebahagiaan” dan “kesuksesan” bagi Gen Z telah bergeser.

Jika dulu sukses identik dengan menikah dan punya anak, kini sukses bisa berarti kebebasan berkarya, traveling, atau mencapai puncak karier.

Banyak Gen Z yang merasa hidupnya sudah cukup utuh (fulfilled) dengan mengejar passion, hobi, dan kontribusi sosial tanpa kehadiran anak.

Mereka memilih mengalokasikan waktu, energi, dan sumber daya mereka untuk pertumbuhan diri sendiri dan pasangan. Ini adalah bentuk kejujuran terhadap kapasitas diri.

4. Kekhawatiran Terhadap Kondisi Lingkungan dan Dunia

Isu perubahan iklim (climate change), krisis air bersih, hingga ketidakstabilan geopolitik menjadi “makanan sehari-hari” Gen Z di media sosial.

Hal ini memunculkan eco-anxiety atau kecemasan terhadap lingkungan.

Sebagian Gen Z memilih childfree atas dasar etika lingkungan.

Mereka merasa tidak tega menghadirkan manusia baru ke bumi yang kondisinya sedang tidak baik-baik saja.

Selain itu, tidak memiliki anak dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengurangi jejak karbon (carbon footprint) di bumi.

5. Memahami Bahwa Menjadi Orang Tua Adalah Pilihan, Bukan Kewajiban

Alasan yang paling mendasar dan sehat adalah kesadaran penuh bahwa memiliki anak adalah sebuah pilihan hidup (choice), bukan kewajiban sosial (obligation).

Gen Z berani menantang narasi bahwa “hidup baru sempurna jika punya anak”.

Mereka menyadari bahwa setiap orang punya peran berbeda di dunia ini.

Ada yang berperan sebagai orang tua yang hebat, ada pula yang berperan sebagai bibi/paman yang penyayang, guru, mentor, atau aktivis tanpa harus menjadi orang tua biologis.

Menghormati kapasitas diri untuk bilang “saya tidak sanggup/tidak ingin” adalah bentuk kejujuran yang patut dihargai.

Keputusan untuk memiliki anak atau childfree adalah hak asasi yang sama-sama valid.

Keduanya memiliki tantangan dan kebahagiaannya masing-masing.

Yang terpenting bukanlah mana yang lebih baik, melainkan apakah keputusan tersebut diambil secara sadar, tanpa paksaan, dan membawa kedamaian bagi yang menjalaninya.

Mari kita normalisasi sikap saling menghargai pilihan hidup orang lain tanpa penghakiman.

Baca Juga: Jangan Asal Didik! Ini 5 Rekomendasi Buku Parenting yang Wajib Dibaca Orang Tua

(*Mira)