“Beijing bertekad dan mampu menjaga kedaulatan teritorial nasionalnya,” tambahnya dengan nada memperingatkan.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, pada Minggu (23/11) menegaskan bahwa rencana penempatan unit rudal jarak menengah jenis darat-ke-udara di pangkalan militer Yonaguni “terus bergerak maju”.
Menurut Koizumi, langkah ini murni defensif untuk melindungi kedaulatan pulau terluar mereka.
“Kita meyakini bahwa keberadaan unit ini akan mengurangi kemungkinan serangan bersenjata terhadap negara kita,” ucap Koizumi.
Eskalasi diplomatik ini merupakan puncak dari krisis terburuk dalam beberapa tahun terakhir antara kedua raksasa Asia tersebut.
Situasi memanas setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, awal bulan ini mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa serangan hipotetis Beijing terhadap Taiwan dapat memicu respons militer langsung dari Tokyo.
Merespons hal tersebut, China bahkan telah membawa sengketa ini ke level tertinggi. Pada Jumat (21/11), Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, mengirimkan surat protes kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Dalam suratnya, Fu menuduh Tokyo mengancam “intervensi bersenjata” dan menyebut pernyataan PM Takaichi sebagai “pelanggaran berat terhadap hukum internasional”.
(ra)
















