Kita terjebak dalam siklus doomscrolling, terus menggulir dari satu berita negatif ke berita negatif lainnya.
Paparan terus-menerus terhadap hal ini dapat membuat dunia terasa seperti tempat yang menakutkan dan tanpa harapan, yang secara langsung merusak suasana hati dan pandangan hidup kita.
3. Kecemasan Akibat FOMO (Fear of Missing Out)
FOMO, atau “Takut Ketinggalan”, adalah fenomena yang diperkuat oleh media sosial.
Saat Anda melihat teman-teman Anda sedang berpesta, berlibur, atau sekadar berkumpul tanpa Anda, itu dapat memicu perasaan cemas dan terisolasi.
Anda mulai merasa bahwa hidup orang lain jauh lebih menarik dan Anda “ketinggalan” sesuatu yang penting.
Perasaan ini memaksa Anda untuk terus-menerus memeriksa ponsel, bukan karena Anda ingin terhubung, tetapi karena Anda takut ditinggalkan, yang merupakan sumber stres yang konstan.
4. Mengganti Koneksi Nyata dengan Interaksi Semu
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan koneksi mendalam.
Media sosial menawarkan ilusi koneksi melalui “like“, “share“, dan komentar singkat. Namun, interaksi pasif ini tidak dapat menggantikan kehangatan percakapan tatap muka, pelukan, atau sekadar tawa bersama di ruangan yang sama.
Semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk scrolling sendirian, semakin sedikit waktu yang kita miliki untuk koneksi nyata.
Paradoksnya, semakin “terhubung” kita secara digital, kita justru bisa merasa semakin kesepian, yang merupakan inti dari mood yang buruk.
Baca Juga: Bukan Anti-Sosial, Ini 3 Alasan Cerdas Mengapa Kita Perlu Menjauh dari Notifikasi HP
(*Mira)
















