Pelaku kini lebih sering menggunakan teknik manipulasi sosial (social engineering) yang menargetkan pengguna secara langsung.
“Banyak kasus terjadi karena korban tertipu memberikan OTP, PIN, atau data pribadi kepada pelaku. Sistem kami bisa mendeteksi anomali transaksi, tapi tidak bisa mencegah jika pengguna sendiri menyerahkan datanya,” ujarnya.
Tips Hindari Penipuan
Sudhista menekankan, pencegahan paling efektif adalah kombinasi antara teknologi yang kuat dari penyedia layanan dan kesadaran pengguna yang tinggi.
Ia pun membagikan tips keamanan praktis bagi pengguna layanan pembayaran digital.
“Jika menerima fake call atau tautan mencurigakan, jangan diklik. Instal aplikasi hanya dari Play Store atau App Store, hapus pesan mencurigakan, dan laporkan sebagai spam,” imbuhnya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat segera menutup panggilan telepon yang mencurigakan dan tidak pernah, dalam kondisi apapun, menyebutkan data pribadi atau kode OTP melalui sambungan telepon.
Baca Juga: Waspada Penipuan! Hacker Retas WA Wakil Wali Kota Pontianak, Sebar Pesan Minta Uang
Sudhista menegaskan pentingnya kolaborasi antara regulator, penyedia layanan, dan masyarakat dalam memperkuat literasi keamanan digital.
“Mari menjadi generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi juga tahan tipu digital. Keamanan adalah tanggung jawab bersama,” kata Sudhista menambahkan.
(*Red)
















