Peningkatan ini mendesak dilakukan mengingat adanya kesenjangan antara pasokan dan permintaan aluminium nasional yang kini mencapai 1,2 juta ton per tahun.
Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Melonjak Rp13 Ribu, Kembali Cetak Rekor Tertinggi Hari Ini
Menurut Maroef, permintaan aluminium domestik diproyeksikan meroket hingga 600% dalam 30 tahun mendatang. Lonjakan ini didorong oleh berkembangnya ekosistem kendaraan listrik (EV) dan energi terbarukan.
Sebagai contoh, satu unit battery pack EV membutuhkan 18% material aluminium, dan sebuah panel surya berkapasitas 1 megawatt (MW) memerlukan sekitar 21 ton aluminium.
“Grup MIND ID berkomitmen untuk menjadi penggerak hilirisasi aluminium terintegrasi guna memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen aluminium dunia dan mampu berdaulat dalam mendukung industri manufaktur sekaligus mengurangi ketergantungan impor,” kata Maroef.
Rantai Pasok Terintegrasi dari Hulu ke Hilir
Untuk mencapai target tersebut, MIND ID tengah menyiapkan proyek fasilitas produksi aluminium baru di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas 600.000 ton.
Jika digabungkan dengan fasilitas milik Inalum yang sudah ada, total kapasitas produksi akan mencapai target 900.000 ton.
Dari sisi midstream, SGAR Fase I telah beroperasi dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun. Pengembangan SGAR Fase II juga sedang disiapkan untuk menambah kapasitas sebesar 1 juta ton lagi.
Untuk mendukung pasokan bijih bauksit ke smelter, MIND ID melalui Antam juga telah membangun fasilitas washed bauxite berkapasitas 1,47 juta ton per tahun di Mempawah.
Rantai nilai yang terintegrasi ini diyakini mampu menciptakan nilai tambah yang signifikan, di mana 1 ton bauksit senilai US2.700 setelah diolah menjadi aluminium.
(*Red)
















